Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menyebut Mulyono (MYN) memperoleh uang hingga Rp 680 juta dari ucapan terima kasih para orang tua calon mahasiswa baru. Para orang tua itu senang lantaran anaknya berhasil diterima di universitas negeri.
"Pada seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun 2025 dan 2026 jalur mandiri, ASO memberikan perintah kepada MYN dengan kode 'jangan diminta di awal, jika dikasih bilang terima kasih'. Atas hal tersebut, MYN atas sepengetahuan ASO diduga melakukan penerimaan lainnya atau gratifikasi berupa uang sekurang-kurangnya senilai Rp 680 juta," ungkap Taufik saat konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Taufik menjelaskan, dari uang yang diperoleh tersebut, Sodiq memerintahkan Mulyono membelikannya tiga bidang tanah. Tanah itu pun diberi nama milik Mulyono.
"ASO juga diduga memerintahkan MYN, untuk melakukan pembayaran atas pembelian tiga bidang tanah, yang kemudian diatasnamakan MYN. Sehingga dalam hal ini, MYN bertindak sebagai penerima sekaligus pengelola uang yang diperuntukkan bagi ASO," kata Taufik.
KPK juga menyebut ada tawar menawar 'mahar' calon mahasiswa baru hingga terkumpul Rp 1,12 miliar. Dilansir NadiKabar.com, Rektor Unsoed Akhmad Sodiq memberikan akses akun miliknya ke bawahan setelah 'tawar menawar mahar' untuk meloloskan calon mahasiswa baru (camaba) disepakati.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menjelaskan, mulanya Kepala Bagian (Kabag) Akademik Unsoed Eko Sumanto 'bertugas' melakukan negosiasi dengan pihak pengepul untuk memeras calon mahasiswa baru jalur Mandiri dengan iming-iming bisa lolos.
Eko lalu berkomunikasi intens dengan para pengepul tersebut. Eko juga melakukan 'tawar menawar mahar' atas sepengetahuan Sodiq. Eko menerima total Rp 1,12 miliar dari salah satu pihak pengepul.
"Bahwa pada periode yang sama (2026), diketahui Eko selaku Kepala Bagian Akademik Unsoed berkomunikasi dengan salah satu pihak pengepul para calon mahasiswa baru di Unsoed.
Dalam komunikasi tersebut diketahui, Eko atas sepengetahuan Akhmad Sodiq melakukan 'tawar menawar mahar' dengan pihak pengepul dalam proses penerimaan mahasiswa baru jalur Mandiri," kata Taufik dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Jumat (21/8/2026) malam.
"Setelah sepakat mengenai 'mahar' tersebut, Eko kemudian menerima uang dari salah satu pihak pengepul para calon mahasiswa baru dengan total mencapai Rp 1,12 miliar (2025-2026)," sambungnya.
Eko kemudian melaporkan soal uang itu ke Sodiq. Setelah deal-dealan mahar disepakati, Sodiq lalu memberikan akses akun miliknya ke Eko untuk memberikan approval kepada calon mahasiswa baru yang telah menyetor uang.
"Atas penerimaan tersebut, Eko melaporkannya kepada Akhmad Sodiq. Bahwa kemudian Akhmad Sodiq memberikan akses user id-nya kepada Eko untuk proses otorisasi 'klik' atau memberikan approval pada calon mahasiswa baru yang telah memberikan uang," ungkap Taufik.
"Atas penerimaan tersebut Eko melaporkannya kepada Akhmad Sodiq. Bahwa kemudian Akhmad Sodiq memberikan akses user id-nya kepada Eko untuk proses otorisasi 'klik' atau memberikan approval pada calon mahasiswa baru yang telah memberikan uang," imbuhnya.