NADIKABAR.COM — Bursa mata uang kripto, Binance, mengungkap cara hacker mencuri aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 miliar, yakni menggunakan modus wawancara kerja palsu, malware dan alat berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) internal perusahaan.

Berdasarkan informasi terbaru yang dirilis Binance, peretas pertama kali mendapatkan akses ke sistem perusahaan pada musim panas.

Saat itu, seorang teknisi perusahaan tanpa sengaja mengunduh malware yang membuat identitas karyawan tersebut serta anggota tim lainnya terekspos. Tim tersebut diketahui bertanggung jawab untuk mengelola infrastruktur dompet kripto di Binance.

Selanjutnya, peretas berpura-pura menjadi direktur proyek menghubungi teknisi lain melalui platform pencarian kerja yang legal. Ia kemudian menyamar sebagai staf human resources (HR) pada wawancara video tahap pertama.

Wawancara tahap kedua dilakukan melalui aplikasi percakapan dengan pelaku yang mengaku sebagai CEO dari perusahaan fiktif. Dalam wawancara kedua ini, teknisi tersebut ditipu sehingga mengunduh malware ke komputernya.

Sebelumnya, Binance diretas melalui operasi yang dimulai pada Juni 2026. Serangan tersebut berlanjut dengan penipuan rekrutmen pada September.