NADIKABAR.COM — Paparan berita buruk secara terus-menerus, terutama mengenai bencana, konflik, atau tragedi, dapat membuat seseorang merasa semakin cemas dan tertekan. Meski mengikuti perkembangan informasi merupakan bentuk kepedulian, terlalu banyak menerima kabar negatif justru dapat membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi waspada.

Psikolog Meity Arianty mengatakan, peduli bukan berarti terus-menerus terpapar penderitaan. Seseorang tetap bisa mengikuti informasi, namun ada yang namanya batas sehat.

"Pilih sumber yang kredibel, tentukan waktu khusus baca berita. 'Aku mau lakukan di pagi hari, karena pagi hari di mana aku melakukan aktivitas. Ya, jangan malam hari juga, karena aku mau tidur, istirahat, mungkin siang atau menjelang sore," katanya dalam tayangan detikPagi, Selasa (8/9/2026).

Jadi, tentukan waktu yang kira-kira nyaman untuk membaca berita. Kemudian, matikan notifikasi yang tidak penting.

"Hindari yang berulang. Lihat gambar atau video yang berulang. Gambar itu bukan yang membahayakan saja, tapi yang enggak enak," katanya.

Ia menganjurkan untuk memeriksa perasaan saat melihat berita, apakah rasanya nyaman? Paparan berita yang terus-menerus bisa meningkatkan rasa terancam dan kecemasan, serta menurunkan kemampuan seseorang untuk menghadapi stres.

"Jadi tanyakan, apa yang bisa saya lakukan? Kalau saya bisa membantu, ya bantu. Kalau tidak, izinkan diri kita untuk istirahat. Istirahat, kembali menjalani kehidupan," katanya.

Dengan menenangkan diri, seseorang bisa hadir sepenuhnya untuk membantu orang lain. Sebab, jika tubuh sakit, maka tidak mungkin bisa membantu orang lain yang sakit.

"Kita tidak harus ikut hancur untuk membuktikan bahwa kita peduli. Justru dengan menjaga diri, tetap tenang, kita bisa hadir sepenuhnya untuk membantu orang lain," katanya.