NADIKABAR.COM — Pengumuman The Fed Hari Ini memastikan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) resmi menahan tingkat suku bunga acuannya.
Keputusan penahanan suku bunga di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen tersebut diambil pada Rabu (28/10) waktu setempat melalui hasil pemungutan suara 10 berbanding 2.
Dengan ditahannya suku bunga acuan, Ketua The Fed Kevin Warsh yakin inflasi AS dapat diturunkan ke target 2 persen tanpa harus menghambat pertumbuhan ekonomi atau mengerek angka pengangguran.
Dalam konferensi pers usai rapat kebijakan selama dua hari, Warsh memproyeksikan laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal III yang rilis pada Kamis (29/10) akan menunjukkan tren investasi dan belanja konsumen yang kuat, serta percepatan pertumbuhan dibandingkan dengan paruh pertama tahun ini.
Meskipun begitu, Warsh menilai perekonomian AS saat ini tidak terlalu panas atau menghasilkan inflasi akibat lonjakan permintaan yang perlu ditekan secara paksa.
"Perekonomian bergerak ke arah yang benar. Apakah perekonomian tumbuh terlalu panas? Apakah perekonomian tumbuh terlalu kuat? Itu bukan penilaian sebagian besar kolega saya," ujar Warsh melansir dari Reuters.
Ia kembali menegaskan perubahan produktivitas, termasuk yang sudah terjadi sebelum ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), memungkinkan AS untuk tumbuh lebih cepat tanpa memicu inflasi sebesar sebelumnya.
"Menurut saya, tujuannya bukanlah menghambat roda perekonomian dan membuat orang kehilangan pekerjaan. Saya tidak berpikir kita harus melakukan itu," katanya.
Ia membeberkan suku bunga kebijakan The Fed yang lebih tinggi telah menunjukkan dampaknya melalui kondisi kredit yang sedikit lebih ketat. Imbasnya, investasi bisnis melambat dan dinilai turut berkontribusi terhadap pelemahan pasar saham baru-baru ini.
Menurut dia, apabila pelemahan pasar saham tersebut sukses menekan tingkat belanja keluarga berpenghasilan tinggi, kondisi ini berpotensi menjadi sumber tambahan disinflasi atau perlambatan kenaikan harga.