Sebagian besar kejadian berlangsung pada rentang Agustus hingga September, saat musim kemarau mencapai puncaknya, yakni kelembapan tanah menurun tajam dan angin kerap memperluas jangkauan api.
Nurlaila menyampaikan bahwa seluruh penanganan dilakukan secara terpadu melibatkan personel BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian dan Perkebunan, TNI, Polri, perusahaan, perangkat desa, kelurahan, dan relawan.
Pola mitigasi hingga penanganan mencakup pemadaman langsung di lokasi, patroli pencegahan harian, penyuluhan kesadaran kepada warga, hingga pemantauan titik rawan kebakaran dari menara pengawas.
Luasan terbesar masing-masing tercatat di Desa Girimukti, Kelurahan Gunung Seteleng, serta wilayah Desa Tengin Baru dan sekitarnya. Sebagian besar dapat dipadamkan dalam waktu relatif singkat, namun sejumlah titik memerlukan penanganan berkelanjutan karena angin yang berubah-ubah serta sifat lapisan lahan kering yang mudah terbakar kembali.