Proyek tersebut menawarkan potensi pengembangan tambak seluas 6.061 hektare dengan kapasitas produksi 30 ton per hari. Potensi perluasan kawasan budidaya bahkan diperkirakan dapat mencapai 20.000 hektare.

Brdasarkan hasil asesmen, keempat proyek hilirisasi tersebut menawarkan tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) sekitar 17,7 hingga 42 persen dengan periode pengembalian modal atau break even point (BEP) berkisar tiga hingga delapan tahun.

"Sehingga investor masuk ke rantai nilai yang sudah berjalan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel Lusapta Yudha mengatakan realisasi investasi di provinsi tersebut hingga triwulan III 2026 mencapai Rp46,54 triliun atau 104,28 persen dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 sebesar Rp44,64 triliun.

Capaian tersebut menjadi modal penting sekaligus momentum bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat kualitas investasi di Sumatera Selatan, termasuk melalui pengembangan hilirisasi komoditas unggulan.