NADIKABAR.COM — Tim Task Force Percepatan Investasi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menawarkan empat proyek investasi hilirisasi komoditas unggulan dengan nilai gabungan mencapai 76 juta dolar AS guna meningkatkan nilai tambah dan daya tarik investasi di daerah itu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono dalam kegiatan Sriwijaya Economic Forum di Palembang, Selasa, mengatakan empat proyek tersebut mencakup pengolahan kelapa, ikan patin, peternakan sapi potong, dan budidaya udang vaname.

"Kami mendorong hilirisasi komoditas unggulan agrobisnis. Ada kelapa, ikan patin, sapi potong, dan udang vaname agar komoditas ini tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang bernilai tambah bagi Sumatera Selatan," katanya.

Ia menjelaskan proyek pertama berupa industri pengolahan kelapa di Kabupaten Banyuasin dengan nilai investasi 7,16 juta dolar AS.

Proyek tersebut memanfaatkan potensi produksi kelapa Banyuasin yang mencapai 47.456 ton pada 2025. Pengolahan diarahkan untuk menghasilkan produk berupa virgin coconut oil (VCO) dan briket arang dengan target produksi VCO mencapai 1,8 juta liter per tahun.

Proyek kedua berupa pengolahan ikan patin terintegrasi di Kabupaten Ogan Ilir dengan nilai investasi 7,8 juta dolar AS.

Ogan Ilir merupakan salah satu sentra produksi ikan patin di Sumsel dengan produksi mencapai 4.865 ton pada 2024 atau meningkat 51 persen dibandingkan 2020.

Peluang investasi tersebut mencakup integrasi pengolahan ikan, penyediaan pakan, hingga produksi filet beku dalam satu kawasan untuk memenuhi kebutuhan pasar makanan beku (frozen food) yang diperkirakan tumbuh hampir tujuh persen per tahun.

Selanjutnya, proyek ketiga berupa peternakan dan pengolahan sapi potong di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan nilai investasi 27,84 juta dolar AS.

Pengembangan usaha tersebut dirancang melalui ekosistem terintegrasi mulai dari pembibitan, penggemukan, rumah potong hewan, hingga pabrik pakan. Proyek itu juga didukung potensi pasokan bungkil sawit mencapai 29.900 ton per tahun untuk menekan biaya produksi pakan ternak.

Lalu, proyek keempat berupa budidaya udang vaname di Kabupaten OKI dengan nilai investasi 33,2 juta dolar AS dan periode pengembalian investasi diperkirakan tiga tahun.

Proyek tersebut menawarkan potensi pengembangan tambak seluas 6.061 hektare dengan kapasitas produksi 30 ton per hari. Potensi perluasan kawasan budidaya bahkan diperkirakan dapat mencapai 20.000 hektare.

Brdasarkan hasil asesmen, keempat proyek hilirisasi tersebut menawarkan tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) sekitar 17,7 hingga 42 persen dengan periode pengembalian modal atau break even point (BEP) berkisar tiga hingga delapan tahun.

"Sehingga investor masuk ke rantai nilai yang sudah berjalan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel Lusapta Yudha mengatakan realisasi investasi di provinsi tersebut hingga triwulan III 2026 mencapai Rp46,54 triliun atau 104,28 persen dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 sebesar Rp44,64 triliun.

Capaian tersebut menjadi modal penting sekaligus momentum bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat kualitas investasi di Sumatera Selatan, termasuk melalui pengembangan hilirisasi komoditas unggulan.