NADIKABAR.COM — Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali, memperketat sistem pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Petugas TPST kini hanya mengangkut sampah warga yang sudah terpilah dari rumah sebelum diangkut ke Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center Karangdadi di Desa Kusamba.

Perbekel Desa Banjarangkan, Anak Agung Gde Indrawan Diputra, menegaskan langkah ini diambil untuk mendukung program pengolahan sampah berbasis sumber. Sekaligus menyesuaikan dengan aturan pengiriman sampah ke TOSS Center.

"Kami pastikan sampah yang diangkut oleh petugas TPST benar-benar sudah terpilah dari rumah warga. Kalau belum terpilah, petugas kami tidak akan mengangkutnya," ujar Indrawan kepada NadiKabar, Selasa (1/9/2026).

Indrawan menjelaskan pemilahan difokuskan pada kategori sampah organik dan nonorganik. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos atau bahan pakan, sementara sampah nonorganik bernilai ekonomis disalurkan ke bank sampah.

Petugas TPST, dia berujar, sudah rutin memberikan edukasi langsung ke banjar-banjar agar warga terbiasa memilah. Menurutnya, volume sampah yang masuk ke TPST Banjarangkan mencapai 2 ton per hari.

Indrawan mengatakan penumpukan sampah bisa mencapai 14 ton dalam sepekan jika TPST tidak dikelola dengan ketat dari rumah tangga. Ia berharap kesadaran masyarakat dalam memilah sampah semakin meningkat.

"Jika di rumah tangga sudah selesai dipilah, beban pengolahan di hilir seperti TOSS Center akan jauh berkurang dan prosesnya jadi lebih cepat," tegasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Klungkung, I Dewa Komang Aswin, menyebutkan penerimaan sampah residu dari desa kini dijadwalkan secara terbatas. Aswin menekankan sampah yang diterima di TOSS Center harus sudah terpilah.

"Sejak Senin (10/8) lalu, kita sudah menerima sampah anorganik dan residu dari desa sesuai jadwal yang kita berikan. Per hari ada empat desa masing-masing 1 ton per desa," kata Aswin.

Diketahui, penanganan sampah residu di TOSS Center kini ditunjang mesin pirolisis berkapasitas sekitar 8 ton per jam. Mesin dari luar negeri tersebut diharapkan dapat beroperasi maksimal sehingga persoalan sampah di Klungkung bisa ditangani lebih cepat.