Rachmat menilai, nilai-nilai yang terkandung dalam munjung menjadi bagian penting yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, menurutnya, bukan hanya tradisinya yang perlu dipertahankan, tetapi juga nilai kehidupan yang ada di dalamnya.
"Karena ini sesungguhnya yang kita wariskan ini bukan hanya tradisi, tetapi nilai kehidupan yang ada di balik tradisi tersebut. Jadi jangan sampai salah persepsi," ucapnya.
Dia menambahkan, penetapan munjung sebagai WBTB justru menjadi tanggung jawab baru bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi atau sekadar kebanggaan setelah mendapatkan pengakuan nasional.
"Kemudian kami memandang bahwasanya penetapan WBTB Indonesia untuk tradisi munjung ini sebuah tanggung jawab baru. Terutama bagi pemerintah daerah bersama masyarakat, harus memastikan bahwa tradisi munjung ini tetap menjadi budaya yang hidup, bukan hanya menjadi dokumentasi ataupun hanya kebanggaan belaka," jelasnya.
Disparbud Majalengka juga mendorong agar generasi muda tidak memandang munjung sebagai tradisi masa lalu. Nilai silaturahmi, gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan sesepuh, serta kepedulian sosial dinilai masih relevan dengan kehidupan saat ini.
"Ke depan, kami akan terus mendorong karena kami sebagai dinas pengampu bidang pariwisata dan kebudayaan, juga ekonomi kreatif bagaimana tradisi munjung dapat diperkuat melalui edukasi, dokumentasi, pelibatan generasi-generasi muda dalam berbagai kegiatan budaya, serta ruang-ruang kreatif yang tetap tentunya menghormati nilai dan pakem tradisinya," ucapnya.
Rachmat berharap, pengakuan nasional tersebut tidak membuat masyarakat hanya merasa bangga, tetapi juga semakin terdorong untuk menjalankan dan menjaga tradisi munjung.