Dari sisi faktor yang memengaruhi, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 24,4 persen secara tahunan pada September 2026. Pertumbuhan tersebut berbalik dari kontraksi 7,0 persen pada Agustus.
Aktiva luar negeri bersih juga kembali tumbuh positif sebesar 1,0 persen secara tahunan setelah mengalami kontraksi 6,6 persen pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.078,2 triliun pada September 2026 atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melanjutkan tren positif meski sedikit melambat dibandingkan Agustus yang tumbuh 13,3 persen.
Pertumbuhan kredit terutama didorong oleh penyaluran kepada debitur korporasi yang tumbuh 20,3 persen secara tahunan. Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Agustus yang mencapai 21,6 persen.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja tumbuh 12,7 persen secara tahunan, meningkat dari 12,3 persen pada Agustus. Peningkatan tersebut antara lain didorong penyaluran kredit ke sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, serta sektor jasa-jasa.
Kredit investasi tumbuh 21,0 persen secara tahunan, melanjutkan pertumbuhan 23,4 persen pada Agustus. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kredit pada sektor konstruksi, listrik, gas dan air bersih, serta pertambangan dan penggalian.
Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 4,7 persen secara tahunan, melambat dibandingkan Agustus yang tumbuh 5,0 persen. Kredit pemilikan rumah tumbuh 4,3 persen dan kredit multiguna tumbuh 6,5 persen. Adapun kredit kendaraan bermotor masih mengalami kontraksi 9,7 persen.
Dari sisi suku bunga, BI mencatat rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada September 2026 sebesar 8,9 persen, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Berbeda dengan suku bunga kredit, suku bunga simpanan berjangka mengalami peningkatan pada sejumlah tenor. Suku bunga tenor satu bulan naik menjadi 5,3 persen dari 5,1 persen pada Agustus.