NADIKABAR.COM — Universitas Gadjah Mada (UGM), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK UGM) memperkuat ekosistem inovasi vaksin dan imunisasi melalui pertemuan internasional akademisi di kawasan Asia-Pasifik.

Dekan FK-KMK UGM Prof. Yodi Mahendradhata, di Yogyakarta, Jumat, mengatakan ekosistem inovasi vaksin akan terbangun melalui kolaborasi yang baik antara ilmuwan, peneliti, produsen, regulator, dan penyedia layanan kesehatan.

"Ilmuwan mempelajari penyakit dan mengembangkan calon vaksin, tim peneliti menguji keamanan dan efektivitasnya, regulator meninjau buktinya, produsen memproduksi vaksin, dan penyedia layanan kesehatan mendistribusikan vaksin ke masyarakat," katanya.

Menurut dia, keterhubungan antarlembaga dan individu itu sangat penting karena jika satu bagian lemah, penemuan yang sangat menjanjikan tidak akan pernah sampai kepada orang-orang yang membutuhkannya.

"Jadi tujuan kita, aspirasi kita adalah agar vaksin yang aman dan efektif bisa menjangkau sebanyak mungkin orang," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Acara International Vaccine Symposium 2026 Prof. Jarir At Thobari mengatakan kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga riset, dan mitra industri dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.

"Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas riset, kepemimpinan, pemanfaatan bukti ilmiah, dan kemitraan di bidang vaksin dan imunisasi," katanya.

Menurut dia, rangkaian kegiatan tersebut berlangsung sejak 28 September hingga 3 Oktober 2026 dengan mengadakan berbagai diskusi berkaitan dengan vaksin dan imunisasi.

"Diskusi, studi kasus, pertukaran pengalaman antara negara terkait tantangan dalam program imunisasi terjalin bersama para ahli," ujarnya.

Ia menjelaskan beberapa pembahasan yang didiskusikan, di antaranya surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, kesiapsiagaan pandemi, zero-dose children, pemerataan akses imunisasi, ekonomi kesehatan vaksin, serta pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung kebijakan imunisasi.

"International Vaccine Symposium 2026 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas penguatan ekosistem inovasi vaksin, mulai dari penelitian dan pengembangan, uji klinis, produksi, hingga kebijakan dan penerapannya dalam pelayanan kesehatan," katanya.

Menurut dia, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara akademisi dan peneliti Indonesia dengan jejaring kolaborasi regional dan internasional.

"Kolaborasi yang terbangun diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penelitian, memperluas kerja sama antarnegara," ujarnya.

Melalui forum tersebut, ia juga berharap hasil riset dan inovasi vaksin dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun kawasan Asia-Pasifik.