NADIKABAR.COM — Naskah Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang merekam kesaksian sejarah letusan Gunung Tambora mendapat pengakuan UNESCO setelah ditetapkan dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MoWCAP).

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan naskah kronik Bo’ Sangaji Kai merupakan catatan penting Kesultanan Bima yang merekam berbagai peristiwa sejarah dalam rentang abad ke-17 hingga abad ke-19.

"Naskah itu memuat pengetahuan mengenai pemerintahan hubungan antarkerajaan diplomasi perdagangan dan kehidupan sosial masyarakat. Salah satu nilai pentingnya adalah kesaksian mengenai letusan Gunung Tambora tahun 1815," ujarnya dalam pernyataan di Mataram, Jumat.

Ihwan menjelaskan Bo' Sangaji Kai memberikan gambar tentang perspektif masyarakat setempat terhadap peristiwa letusan Gunung Tambora yang menciptakan perubahan iklim skala global.

Menurutnya, naskah itu juga memperlihatkan hubungan Bima dengan kerajaan dan jaringan perdagangan di kawasan Asia Tenggara serta menyimpan catatan mengenai penguasa perempuan dan perlindungan hukum bagi perempuan.

Berbagai catatan sejarah dan budaya selama tiga abad tersebut menjadikan naskah Bo'a Sangaji Kai sebagai sumber primer yang bernilai untuk kajian sejarah sosial politik hukum dan kebudayaan.

"Melalui naskah itu, sejarah NTB dapat dipelajari sebagai bagian dari hubungan antarmasyarakat dan perkembangan pengetahuan yang melampaui batas wilayah," kata Ihwan.

Lebih lanjut dia menyampaikan pengakuan MoWCAP dari UNESCO memperluas perhatian terhadap nilai penting sejarah dan budaya Kesultanan Bima sekaligus memperkuat alasan untuk menjaga keberadaan naskah dan memastikan pengetahuannya bisa terus dilestarikan oleh generasi mendatang.

Ihwan menegaskan pengajuan bersama Bo’ Sangaji Kai memperlihatkan bahwa upaya membawa warisan daerah ke forum internasional memerlukan kerja sama lintas lembaga.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Yayasan Museum Sampa Radja, dan Pemerintah Provinsi NTB menjadi bagian dari kolaborasi pengusulan yang menghubungkan kekayaan koleksi daerah dengan proses penilaian internasional UNESCO tersebut.

Dinas Kebudayaan NTB berharap pengakuan internasional itu semakin menumbuhkan kebanggaan masyarakat serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengenali dan merawat kekayaan sejarah daerah.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan pengakuan MoWCAP membuka peluang bagi Nusa Tenggara Barat untuk memperluas jejaring dengan perpustakaan, museum, pusat kajian, dan perguruan tinggi di kawasan Asia-Pasifik maupun wilayah lainnya.

Pengakuan internasional itu juga memperkuat pengembangan wisata edukasi yang menghubungkan Museum Sampa Radja sejarah Kesultanan Bima dan pengetahuan mengenai Gunung Tambora.

Iqbal mengingatkan bahwa warisan dokumenter memiliki kandungan pengetahuan yang luas, sehingga bagian yang relevan dapat diolah menjadi materi pembelajaran sesuai bidang dan kebutuhan pendidikan.

"Dari Bima, warisan pengetahuan Bo' Sangaji Kai menjangkau masyarakat yang lebih luas dan membawa pesan bahwa NTB memiliki akar sejarah serta tradisi intelektual yang bernilai bagi Indonesia dan dunia," pungkas mantan Duta Besar Indonesia untuk Turki tersebut.