NADIKABAR.COM — Universitas Mataram (Unram) meneliti perubahan medan magnet bumi atau geomagnet untuk mengkaji pola aktivitas kegempaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketua Magister Mitigasi Bencana Universitas Mataram Teti Zubaidah mengatakan penelitian tersebut dilakukan dengan menganalisis perubahan data geomagnet pada periode ketika aktivitas seismik meningkat.

"Kita lebih aware dan waspada, oh ini seismik, aktivitasnya mulai meningkat nih, terukur," ujarnya di Mataram, Kamis.

Teti menjelaskan tim peneliti membandingkan data geomagnet dengan sejumlah kejadian gempa yang telah terjadi, di antaranya gempa Flores, Lombok, dan Aceh, untuk melihat pola perubahan medan magnet yang menyertainya.

Perubahan medan magnet yang diamati meliputi besaran medan magnet, arah perubahan, hingga sudutnya. Data itu kemudian dikaji untuk melihat keterkaitannya dengan aktivitas kegempaan.

Ia menuturkan kajian tersebut didasarkan pada sifat batuan yang dapat mengalami perubahan kemagnetan ketika mendapat tekanan. Tekanan itu berkaitan dengan proses tektonik yang berlangsung di wilayah pertemuan lempeng.

"Sehingga, itu yang kami monitor, itu yang kami telusuri, seberapa menurunnya," papar Teti.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa penelitian tersebut membutuhkan pengumpulan data dalam jangka panjang, sehingga hasilnya belum dapat ditargetkan selesai dalam waktu tertentu.

Tim peneliti menganalisis data sejak sekitar 1950 hingga sekarang dengan membandingkannya terhadap sejumlah kejadian gempa yang tercatat dalam periode tersebut.

Teti menegaskan penelitian geomagnet tidak dimaksudkan untuk menentukan waktu terjadinya gempa bumi secara pasti. Pengamatan berkelanjutan diharapkan dapat memperlihatkan pola aktivitas seismik, sehingga kewaspadaan terhadap potensi gempa dapat ditingkatkan.

Selain melanjutkan penelitian mitigasi gempa, Universitas Mataram mulai mengembangkan kajian mitigasi vulkanologi. Salah satu upayanya dengan merencanakan pembangunan kembali stasiun observatorium geomagnet di kawasan lereng Sembalun.

Teti menyampaikan pengembangan observasi geomagnet membutuhkan data yang kontinyu dan berkualitas agar pola perubahan medan magnet dapat dikaji dengan lebih baik dari waktu ke waktu.