Dalam penelitian ini, tim menggunakan quasar yang sangat terang sebagai titik referensi untuk menentukan posisi sumber sinyal secara lebih presisi. Hasilnya menunjukkan bahwa emisi tersebut berasal dari Beta Pictoris b, bukan dari bintang Beta Pictoris.
"Meskipun semburan radio aurora telah diamati pada planet-planet di Tata Surya dan beberapa katai ultradingin, belum pernah ada deteksi radio yang dapat dilokalisasi secara meyakinkan ke sebuah planet ekstrasurya, bukan bintang induknya," kata para peneliti seperti dikutip dari Science Alert.
Pengamatan menemukan semburan radio cepat dan berulang, serta emisi yang terus-menerus pada frekuensi 0,85 hingga 3,5 GHz. Yang membuat temuan ini semakin menarik adalah sinyal tersebut tidak hanya memberi tahu keberadaan aurora. Sinyal radio juga dapat digunakan untuk mengukur kekuatan medan magnet planet.
Astronom menduga emisi tersebut dihasilkan melalui mekanisme bernama Electron Cyclotron Maser Instability (ECMI). Proses yang sama berperan dalam menghasilkan emisi radio aurora di Bumi dan Jupiter.
Karakteristik ECMI bergantung pada medan magnet di wilayah tempat emisi dihasilkan. Karena itu, pengamatan radio dapat menjadi cara untuk mengintip medan magnet planet yang sangat jauh.
Hasil perhitungan menunjukkan Beta Pictoris b memiliki medan magnet yang ribuan kali lebih kuat daripada medan magnet Bumi. Peneliti memperkirakan kekuatan medan magnetnya setidaknya sekitar 1,25 kilogauss pada wilayah sumber emisi. Ini menjadi pengukuran langsung pertama kekuatan medan magnet sebuah eksoplanet.