Mereka menambahkan bahwa "keberadaan senjata di luar kendali otoritas negara harus ditangani... sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah, dengan cara yang memperkuat kedaulatan negara".

Al-Zaidi yang menjabat sejak tahun ini dengan restu AS, telah bertekad untuk memperkuat monopoli negara atas persenjataan dan memastikan faksi-faksi bersenjata di Irak menyerahkan senjata mereka kepada negara.

Selama pertempuran melawan ISIS, baik koalisi pimpinan AS maupun faksi bersenjata yang didukung Iran sama-sama memerangi kelompok militan tersebut, yang merupakan musuh bersama. Namun setelah ISIS kalah, keberadaan pasukan koalisi menjadi sumber perselisihan berkepanjangan di Irak.

Faksi-faksi bersenjata itu menuntut penarikan pasukan AS dan mulai menyerang mereka dengan drone juga rudal, yang memicu pembalasan AS hingga menewaskan sejumlah komandan faksi selama beberapa tahun terakhir.