NADIKABAR.COM β C. W. Wormser, pencinta alam berkebangsaan Belanda, merekam rute dari Kuningan menuju Ciamis, Jawa Barat, sebagai kawasan elok. Jalannya berliku dengan lanskap sawah bertingkat dan punggung perbukitan yang memanjakan mata.
Pengalaman itu ia tuangkan dalam tulisan bertajuk Feuilleton Door Java V di De Preanger-bode pada 10 September 1922. Rute tersebut melewati kawasan Darma, sebuah cekungan agraris seluas 425 hektare yang dibelah aliran Sungai Cisanggarung.
Di kawasan tersebut, pemukiman warga dan hamparan sawah membentang sebelum akhirnya lanskap itu dialihfungsikan oleh pihak kolonial sebagai waduk untuk mengamankan pasokan air irigasi tebu.
Proyek senilai 1,5 juta gulden itu dirancang dengan bendungan tanah setinggi 22 meter dan kapasitas tampung 40 juta meter kubik air. Waduk Darma akhirnya beroperasi pada 1962 untuk menopang irigasi pertanian di Kuningan dan Cirebon.
Keberadaan Waduk Darma turut membentuk kehidupan masyarakat di sekitarnya. Hamparan air di kawasan tersebut kini menjadi tumpuan ekonomi warga melalui usaha budidaya ikan.
Salah satu potret aktivitas itu tampak dari keseharian Juned (60) , warga yang telah lebih dari 20 tahun menggeluti budidaya ikan di kawasan tersebut.
Saat ditemui ANTARA, Selasa (23/9), Juned tengah menarik jaring yang penuh sesak. βJemarinya yang legam memindahkan ikan nila itu untuk kemudian dijual kepada pengepul.
Dari tepian, deretan keramba tampak membentang hingga ke tengah waduk, dengan perbukitan sebagai latarnya. Lanskap ini menyimpan cerita tentang perubahan wajah Darma sekaligus kehidupan warga yang tumbuh bersamanya.
Menurut Juned, geliat budidaya ikan sudah berlangsung sejak 1994 yang awalnya berjumlah delapan kolam, kemudian bertambah dengan konsep keramba jaring apung (KJA).
Mulai tahun 2011, kata dia, KJA di Desa Jagara kian menjamur karena dianggap berhasil dan menguntungkan.
βKalau saya sudah lama jadi petani KJA. Sekarang lagi mengelola empat kolam,β katanya.
Sebagian besar warga di kawasan ini, menggantungkan nasib dari aktivitas tersebut. Bahkan, masyarakat desa lainnya yang menjadi kawasan penyangga Waduk Darma melakoni hal serupa.