Prof Widodo mengibaratkan keberadaan AI di era saat ini sama dengan ketika kalkulator pertama kali muncul yang kemudian dapat dipahami oleh masyarakat sebagai alat bantu menghitung.
"Perlu diingat bahwa AI bahan bakarnya adalah pengetahuan, kalau orang berhenti membuat pengetahuan maka AI tidak pintar," ucapnya.
Universitas Brawijaya, lanjutnya, telah membentuk strategi untuk mengontrol penggunaan AI secara bijak dengan menerapkan sistem pemindai untuk karya ilmiah mahasiswa.
"Khususnya skripsi maupun membuat publikasi sekarang dipindai untuk mengetahui ada atau tidaknya plagiarisme dan keterlibatan AI," tuturnya.