NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengajak perguruan tinggi terus memberikan pemahaman lebih tentang tujuan berkuliah kepada setiap mahasiswa di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Wamen Stella di Auditorium Gedung Pandhita Majapahit, Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Senin, mengatakan, pendidikan di perguruan tinggi memiliki tujuan untuk menanamkan pengetahuan secara mendalam kepada mahasiswa dan lebih jauh lagi untuk mempersiapkan diri bersaing di dunia kerja.

"Yang harus dilakukan perguruan tinggi adalah tentang apa tujuan berkuliah dan apakah penggunaan AI untuk apapun, baik tugas, belajar, maupun meringkas membuat individu bisa lebih mencapai atau mundur dari tujuannya," kata Stella.

Ia menyampaikan masing-masing perguruan tinggi harus memulai melakukan pembahasan mendalam, sehingga pemanfaatan AI bisa digunakan sebagai pendukung aktivitas mahasiswa, tanpa mengurangi maupun mengesampingkan proses pendalaman keilmuan lewat pembelajaran di kelas.

Pihaknya tidak ingin para mahasiswa hanya memanfaatkan AI sebagai sebuah hal yang instan, seperti mengejarkan tugas atau semata hanya mengejar nilai, namun tak mendapatkan pengetahuan secara utuh.

"Jadi yang perlu dipertanyakan kalau AI tidak ada di sekitarnya, apakah kemampuannya tetap ada?," ucapnya.

Oleh karena itu, Stella mengajak kampus terus mampu mengemban peran menciptakan, mentransmisikan, dan melakukan kurasi ilmu pengetahuan.

"Yang paling mampu menghadapi ini universitas, kenapa? AI itu lahir dari Darmouth (Darmouth University) pada 1956, sehingga saya merasa universitas pasti mampu menghadapi itu dengan strategi yang tepat," ujar dia.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof Widodo mengatakan lahirnya AI tak akan menggerus fungsi perguruan tinggi dalam menghasilkan dan memberikan pengetahuan untuk tujuan meningkatkan pemahaman serta membentuk kemampuan mahasiswa.

Prof Widodo mengibaratkan keberadaan AI di era saat ini sama dengan ketika kalkulator pertama kali muncul yang kemudian dapat dipahami oleh masyarakat sebagai alat bantu menghitung.

"Perlu diingat bahwa AI bahan bakarnya adalah pengetahuan, kalau orang berhenti membuat pengetahuan maka AI tidak pintar," ucapnya.

Universitas Brawijaya, lanjutnya, telah membentuk strategi untuk mengontrol penggunaan AI secara bijak dengan menerapkan sistem pemindai untuk karya ilmiah mahasiswa.

"Khususnya skripsi maupun membuat publikasi sekarang dipindai untuk mengetahui ada atau tidaknya plagiarisme dan keterlibatan AI," tuturnya.