NADIKABAR.COM — Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 sebesar 6%. Angka ini mesti diraih agar mencapai target Presiden Prabowo Subianto yakni pertumbuhan ekonomi tembus 8% di 2029.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyebut pertumbuhan ekonomi perlu ditingkatkan tiap tahunnya, terlebih Indonesia sedang dalam fase bonus demografi.

"Sekarang ini kita dalam fase bonus demografi, artinya kita punya potensi dari sisi SDM-nya, karena penduduknya masih muda dan masih produktif. Kalau kita tumbuh gini-gini saja, kemudian di tahun 2035, 2040, atau 2045 penduduk kita sudah menua maka tidak ada harapan lagi kita bisa tumbuh tinggi," ujar Juda dalam acara Media Gathering di Bogor, Kamis (1/10/2026).

"Artinya apa? Kita bisa tua sebelum kaya. Inilah visi. Jadi, angka 6% tahun depan, 8% di 2029 ini adalah sebuah visi yang memang harus kita capai di periode yang tidak terlalu lama lagi. Mungkin 10-15 tahun kemudian," lanjut dia.

Di sisi lain, Juda mengungkap bahwa masyarakat Indonesia kini mengalami kenaikan dalam angka harapan hidup. Ini berarti ke depannya, penduduk RI yang berusia muda akan bisa menanggung beban warga RI yang berusia lanjut.

"Sekarang saja penduduk kita sudah mulai kelihatan life expectancy-nya (angka harapan hidup) terus meningkat. Artinya, yang muda ini akan menanggung beban membiayai yang aging, yang tua. Ini jadi pertumbuhan ekonominya menjadi masuk ke yang sering disebut dengan middle income trap," bebernya.

Sementara itu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah 6% di 2027, Juda menyebut perlu meningkatkan produktivitas supaya bisa menghasilkan lapangan kerja baru. Juda bilang, kalau penduduk berusia muda di Indonesia tinggi jumlahnya, maka ketersediaan lapangan kerja juga harus tinggi.

"Produktivitas harus kita tingkatkan, lapangan kerja perlu diperluas. Kalau penduduk kita muda, berarti ketersediaan lapangan kerja harus tinggi supaya mereka bisa kerja, supaya mereka bisa produktif. Jadi, ini memang sebuah tantangan sekaligus sebuah visi," tutup Juda.