"Inovasi yang terbukti memberikan dampak, perlu direplikasi dan diperluas melalui kolaborasi tim redaksi pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat sehingga dapat menjadi bagian dari transformasi nasional menuju Indonesia yang tangguh secara sosial, berkelanjutan secara lingkungan, mandiri dalam energi, dan kuat dalam ketahanan pangan," tuturnya.

Hanif juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan inovasi lingkungan dari sekadar memenuhi ketentuan atau compliance menuju beyond compliance. Arah tersebut sejalan dengan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

ENSIA 2026 sendiri diselenggarakan PT SUCOFINDO (Persero) dengan mengangkat tema "Innovation for Sustainable Business and Resilient Community". Ajang tersebut mengangkat tiga isu khusus, yakni ketahanan pangan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta transisi energi bersih.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero), Sandry Pasambuna, mengatakan ENSIA menjadi salah satu wadah bagi perusahaan untuk menunjukkan inovasi yang dijalankan sekaligus bertukar praktik dengan pelaku usaha lainnya.

"ENSIA memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan capaian inovasinya kepada para pemangku kepentingan. Selain memperoleh pengakuan atas inovasi yang dijalankan, peserta juga mendapatkan ruang untuk berbagi praktik terbaik dan memperluas jejaring serta memperkuat reputasi perusahaan dalam aspek keberlanjutan. Bagi perusahaan yang mengikuti PROPER, apresiasi ENSIA dapat menjadi salah satu nilai tambah dalam mendukung aspek penghargaan nasional pada penilaian PROPER Hijau dan Emas," jelasnya.