Selain memperluas jaringan broadband, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi 5G. Teknologi ini dinilai dapat mendukung kebutuhan AI karena memiliki latensi lebih rendah sehingga proses komputasi dan pengambilan keputusan dapat berlangsung lebih cepat.

"Kalau kita berbicara tentang AI, teknologi yang paling tepat adalah 5G karena memiliki latensi lebih rendah untuk membantu komputasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat," kata Nezar.

Penguatan infrastruktur tersebut dinilai penting karena Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang besar. Nezar memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai USD 366 miliar pada 2030, dari total potensi pasar ASEAN sebesar USD 1 triliun.

Wamenkomdigi berharap kolaborasi pemerintah dan industri telekomunikasi dapat mempercepat pengembangan infrastruktur sekaligus mendorong adopsi AI di berbagai sektor.

"Kita berkolaborasi bersama, pemerintah mencoba menyiapkan perangkat-perangkat regulasi yang bisa membantu industri telekomunikasi sekaligus mendorong adopsi artificial intelligence dengan lebih baik di berbagai sektor," ungkapnya.

Persoalan kesiapan infrastruktur dan regulasi AI juga menjadi pembahasan dalam Lintas Teknologi Solutions Day 2026 yang diselenggarakan PT Lintas Teknologi Indonesia di Royale Jakarta Golf Club, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Forum bertema "AI Is Ready. Are You Part of It?" tersebut mempertemukan pemerintah, operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan pelaku industri digital untuk membahas kesiapan Indonesia dalam mengembangkan serta memanfaatkan AI.