NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti pentingnya kemudahan dalam mengakses sebuah destinasi bagi pertumbuhan industri wisata kebugaran (wellness tourism) di Indonesia.
"Kami terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan teman-teman di Kementerian Perhubungan, serta InJourney agar aksesibilitas ini bisa kita tingkatkan, sehingga lebih banyak lagi pintu untuk masuk ke Indonesia, tidak hanya terpusat di Bali dan Jakarta," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa saat mengunjungi ANTARA Heritage Center (AHC) di Jakarta, Kamis (29/10).
Ni Luh mengaku sebagai negara kepulauan yang membentang luas, konektivitas bagi wisatawan untuk bisa mencapai sebuah destinasi menjadi tantangan dalam mengembangkan sektor pariwisata, khususnya bagi industri kebugaran.
Hal ini juga yang menurutnya membuat perjalanan wisatawan berpusat di Jakarta dan Bali.
Pemerintah pun saat ini, katanya, terus berupaya memaksimalkan fungsi dari sekitar 37 bandara internasional yang tersebar di penjuru negeri dengan menambah rute penerbangan dari berbagai negara ke Indonesia.
Diharapkan akses yang semakin terbuka lebar dapat mempermudah wisatawan mencoba berbagai pengalaman menarik dari kekayaan budaya bangsa.
Selain itu, diharapkan dapat menambah lamanya durasi wisatawan untuk berkunjung beserta nominal pengeluarannya, meski penambahan rute penerbangan itu menurutnya tetap disesuaikan dengan tingginya permintaan wisatawan.
"Misalnya ke Belitung kita sudah ada pembukaan penerbangan dari Singapura ke Belitung dan itu juga load factor-nya cukup bagus di atas 60 persen. Kemudian juga kemarin saya habis dari Medan, begitu kunjungan wisatawan mancanegara ke Medan sebagai destinasi prioritas dan Danau Toba, itu juga mengalami peningkatan dan angkanya cukup bagus," katanya.
Terbukanya akses itu dikatakannya juga perlu memperhatikan seberapa besar dampak yang bisa diberikan terhadap perputaran perekonomian daerah dan nasional.
"Penting untuk kita catat bersama adalah kita tidak boleh hanya bicara soal berapa orang yang datang ke Indonesia tidak hanya bicara soal angka, tapi kita harus bicara beyond numbers, jumlah yang datang itu harus kita bisa konversi kepada kesejahteraan masyarakat, perputaran uangnya yang terjadi di masyarakat artinya devisa yang masuk itu juga naik," katanya.
Sembari memperkuat konektivitas, Ni Luh menyampaikan Kementerian Pariwisata telah menjadikan wisata gastronomi, wisata bahari dan gastronomi sebagai tiga fokus dalam mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan industri kebugaran di berbagai desa wisata agar dapat memberikan hasil nyata pada pelaku UMKM setempat.
Sedangkan terkait dengan wisatawan mancanegara yang disebutnya banyak datang untuk mencoba berbagai aktivitas kebugaran di Indonesia berasal dari Malaysia, Australia dan sejumlah negara dari Timur Tengah.
"Sebagaimana arahan Ibu Menteri, kami melakukan shifting pivoting yaitu menguatkan pasar Asia dan Oseania karena kita sadar bahwa pasar kita yang Eropa pasar kita Amerika yang long haul itu mereka kan harus transit Timur Tengah yang paling banyak dan kondisi seperti itu rasanya kita harus lakukan pivoting kita menguatkan pasar kita yang short haul dan juga medium haul yaitu Asia dan Oseania," tambahnya.