NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mengatakan Indonesia memperkuat pengembangan produksi kedelai nasional melalui peningkatan produktivitas demi mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis tersebut.

"Sebagian besar masyarakat kita tentu mengonsumsi tempe dan tahu. Kedelai menjadi salah satu sumber protein utama," kata Wamentan Alim terkonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Menurutnya pengembangan kedelai menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi nasional melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, daerah, dan mitra usaha pertanian.

"Karena itu, kita berupaya menjalankan arahan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan produksi kedelai di tingkat nasional,” ujarnya.

Alim menyampaikan kedelai memiliki peran penting bagi masyarakat karena menjadi bahan baku utama produk pangan seperti tempe dan tahu.

Menurut dia, peningkatan produksi kedelai harus dilakukan melalui penguatan teknologi, pendampingan petani, serta pengelolaan budidaya yang lebih baik agar produktivitas nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.

Untuk meningkatkan produksi, pihaknya mulai mengembangkan kedelai di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Daerah itu dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena memiliki sejarah panjang sebagai sentra kedelai nasional dengan produktivitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi nasional.

Pemerintah menargetkan pengembangan kedelai melalui program bantuan seluas 50.000 hektare pada 2026, dengan potensi produksi mencapai sekitar 150.000 ton apabila produktivitas mencapai tiga ton per hektare.

Alim menjelaskan produktivitas kedelai nasional saat ini masih berkisar 1,6 hingga 1,8 ton per hektare sehingga peningkatan hasil panen menjadi fokus utama program pengembangan kedelai.

Ia menegaskan peningkatan produksi kedelai tidak harus dilakukan dengan membuka lahan baru, melainkan melalui optimalisasi pola tanam agar tidak mengurangi area produksi padi nasional.

Menurut Alim, pengaturan pola tanam melalui pergiliran komoditas maupun sistem tumpangsari dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus memperbesar produksi kedelai nasional.

Khusus Kabupaten Grobogan, kata dia, Kementan menyiapkan pengembangan kedelai seluas 5.025 hektare dengan potensi produksi lebih dari 15.000 ton apabila produktivitas mencapai tiga ton per hektare.

Pengembangan itu dilakukan kolaborasi antara Kementan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia berharap pengembangan kedelai di daerah tersebut dapat menjadi model nasional yang memperlihatkan keberhasilan kolaborasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat kemandirian pangan.

Melalui pengembangan produksi kedelai tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas petani sekaligus memperkuat pasokan dalam negeri agar ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai semakin berkurang.