Menurut Alim, pengaturan pola tanam melalui pergiliran komoditas maupun sistem tumpangsari dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus memperbesar produksi kedelai nasional.

Khusus Kabupaten Grobogan, kata dia, Kementan menyiapkan pengembangan kedelai seluas 5.025 hektare dengan potensi produksi lebih dari 15.000 ton apabila produktivitas mencapai tiga ton per hektare.

Pengembangan itu dilakukan kolaborasi antara Kementan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia berharap pengembangan kedelai di daerah tersebut dapat menjadi model nasional yang memperlihatkan keberhasilan kolaborasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat kemandirian pangan.

Melalui pengembangan produksi kedelai tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas petani sekaligus memperkuat pasokan dalam negeri agar ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai semakin berkurang.