Bukan cuma itu, otoritas China juga menggandakan jarak uji jalan nyata wajib untuk kendaraan energi baru (NEV) menjadi 30.000 km. Langkah ini diambil untuk memastikan standar keselamatan tetap terjaga di tengah proses pengembangan yang makin singkat. Sejumlah kecelakaan fatal yang sempat jadi sorotan publik di China juga mendorong pengetatan aturan terkait baterai, sistem bantuan pengemudi (ADAS), hingga gagang pintu mobil.

Meski begitu, tak semua pihak sepakat kecepatan produksi ini berbahaya. Ketua merek Voyah dari Dongfeng Motor Corporation, Lu Fang, menilai selama semua pengujian wajib tetap dilakukan, kecepatan produksi justru menunjukkan efisiensi, bukan risiko.

Di sisi lain, para pelaku industri menilai produsen mobil China sulit untuk memperlambat langkah mereka. Penurunan penjualan dan naiknya harga bahan baku membuat margin keuntungan di sepanjang rantai pasok makin tertekan.

Ketua Zhejiang Geely Holding Group Co., Li Shufu, bahkan menyebut permintaan untuk memperlambat pengembangan mobil merupakan hal yang tidak realistis.

"Menurut saya tidak realistis meminta siapa pun untuk melambat. Semua orang sedang berlomba untuk unggul. Kalau ada yang menyuruh saya melambat, saya rasa saya tidak akan bilang 'baiklah'," kata dia dalam wawancara dengan media China CCTV pada Juni lalu.