NADIKABAR.COM — Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie mengusulkan pembentukan koalisi internasional negara-negara di luar Amerika Serikat dan China untuk mengembangkan alternatif teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Gagasan tersebut merupakan bagian dari konsep The Middle Way yang diusung Wantiknas. Ilham menilai perkembangan AI global saat ini semakin didominasi dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan China.
Kondisi tersebut berpotensi membuat negara lain bergantung pada teknologi yang dikembangkan kedua negara tersebut. Karena itu, ia menilai perlu ada kolaborasi antarnegara untuk membangun alternatif ekosistem AI.
"Marilah kita membuat koalisi antarnegara yang non-US, non-Cina, untuk membuat sistem AI yang juga bisa digunakan sebagai alternatif," kata Ilham dalam forum diskusi 'Kedaulatan Digital Indonesia, Realistis atau Utopis?' di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ia menyebut sejumlah negara yang berpotensi menjadi mitra dalam kolaborasi tersebut, antara lain Jepang, India, negara-negara Eropa seperti Swedia, hingga Mesir. Menurut Ilham, kerja sama ini penting agar negara-negara peserta tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi AI dari Amerika Serikat maupun China.
Ia menegaskan, kedaulatan digital bukan berarti Indonesia harus membuat seluruh teknologi sendiri. Sebaliknya, negara perlu memiliki alternatif dan membangun kemitraan agar tidak mudah didikte oleh pihak lain.
"Jadi sovereignty, kedaulatan adalah mempunyai pilihan, juga tidak dalam posisi di-dikte oleh pihak lain dan mempunyai alternatif. Saya kira itu yang optimal," sebutnya.