"Kami awalnya tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya. Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak," ujar Rumdani.
Bank Sampah Cahaya Asri mengembangkan pendekatan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Minyak jelantah yang dikumpulkan warga dapat ditukarkan dengan uang maupun kebutuhan pangan, seperti telur. Melalui upaya tersebut, Bank Sampah Cahaya Asri mampu mengumpulkan sekitar 50-60 kilogram minyak jelantah setiap bulan untuk kemudian disalurkan melalui mitra pengumpul.
Manfaat ekonomi serupa dirasakan Bank Sampah Abhipraya yang berlokasi di Kelurahan Kutawaru. Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, menjelaskan bahwa kelompoknya telah menjalankan kegiatan pemilahan sampah sejak 2019 sebelum kemudian mengembangkan pengumpulan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.
"Dulu minyak jelantah hanya dibuang tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga karena anggota kami telah mendapatkan edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang sangat membantu perkembangan bank sampah," kata Herry.
Sementara itu, Direktur Bank Sampah Beo Asri, Sri Widowati, menyampaikan bahwa kelompoknya telah bergerak dalam pengelolaan sampah rumah tangga sejak 2012. Seiring perkembangannya, pada 2023 Bank Sampah Beo Asri mulai memperluas kegiatan dengan mengumpulkan minyak jelantah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.