NADIKABAR.COM — Seorang warga negara Nigeria, Maduabuchi John Ndummadu, diamankan petugas Imigrasi di Kabupaten Tabanan karena melanggar izin tinggal. Saat hendak diamankan, Ndummadu melarikan diri ke kebun warga sebelum akhirnya berhasil ditangkap.
Kepala Sub Seksi Teknologi Informasi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Tabanan, Merry Yolanda Baransano, dalam siaran persnya, Selasa (1/9/2026), mengatakan petugas Imigrasi awalnya mendapat laporan warga terkait keberadaan WNA di Perumahan Graha Kita, Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, pada Rabu (26/8).
Saat Ndummadu ditemui dan hendak diminta menunjukkan paspor, dia justru melarikan diri menuju kebun warga yang tak jauh dari lokasi.
"Pada saat petugas meminta yang bersangkutan untuk mengambil paspor, WNA tersebut justru melarikan diri menuju area perkebunan warga," kata Merry.
Petugas Imigrasi bersama anggota Polsek Selemadeg Timur dan petugas keamanan desa adat kemudian mengejar WNA itu. Dia akhirnya berhasil diamankan dan digiring ke Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Tabanan untuk diperiksa lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan, Ndummadu diketahui menggunakan Izin Tinggal Kunjungan dengan visa indeks 211 atau visa satu kali kunjungan.
"Izin tinggal itu yang berlaku selama 30 hari. Namun, izin tinggal tersebut ternyata telah habis sejak 28 Februari 2018," jelasnya.
Artinya, Ndummadu telah berada di Indonesia dalam kondisi overstay selama lebih dari delapan tahun.
"Paspor yang dimilikinya juga telah habis masa berlaku sejak 30 Maret 2022. Selain itu dia memang sengaja tidak memperpanjang izin tinggal," ungkapnya.
Atas pelanggaran tersebut, Imigrasi Tabanan menyatakan Maduabuchi John Ndummadu melanggar Pasal 78 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Pasal tersebut mengatur mengenai orang asing yang izin tinggalnya telah habis masa berlaku dan masih berada di wilayah Indonesia.
"Imigrasi kemudian menjatuhkan tindakan administratif keimigrasian berupa deportasi dan penangkalan terhadap yang bersangkutan," imbuhnya.
Sebelum dideportasi ke negara asalnya, Ndummadu diserahkan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar untuk menjalani pendetensian. Penempatan tersebut dilakukan selama proses penanganan keimigrasian dan persiapan deportasi berlangsung.
Selama delapan tahun di Indonesia, Ndummadu menyambung hidup dengan menjadi penyanyi keliling. Menurut Merry, Ndummadu sering menjadi penyanyi freelance di bar serta kafe-kafe.
"Selain di bar dan cafe, yang bersangkutan juga menyanyi di gereja. Dari penghasilan itulah dia bertahan hidup di Indonesia," jelas Merry.
Ndummadu berada di Tabanan baru sekitar dua bulan. Dia pertama kali datang ke Indonesia melalui Jakarta. Kemudian, dia berpindah tempat ke Surabaya hingga akhirnya berada di Bali, tepatnya di Kabupaten Tabanan.
"Dia awalnya tiba di Indonesia. Kemudian pindah tempat tinggal di beberapa tempat seperti di Surabaya dan Bali," pungkasnya.