Mantan Sekretaris Kabinet itu menerangkan saat Q-Day terjadi, seluruh perangkat keras, motherboard, hingga teknologi enkripsi yang ada saat ini tidak lagi relevan dan wajib beralih ke teknologi kuantum optik.
Ia mencontohkan bagaimana negara tetangga seperti Singapura telah menginvestasikan 50 juta dolar AS per tahun untuk mendanai laboratorium kuantum di National University of Singapore (NUS) yang dipimpin ilmuwan asal Indonesia.
Di hadapan mahasiswa UBK, Andi mengaitkan lompatan teknologi tersebut dengan posisi Gen-Z yang disebutnya lahir di tengah situasi dunia yang kerap diguncang krisis tak terduga (angsa hitam), mulai dari serangan WTC 2001, krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19 2020, hingga ancaman perang energi saat ini.
"Teman-teman Gen-Z lahir ketika angsa-angsa hitam ini terbang, lahir di masa susah. Oleh karena itu, pembelajaran dan penguasaan iptek harus dilakukan jauh lebih keras ke depan," tutur Andi.
Andi berpesan agar mahasiswa UBK tidak sekadar menguasai teknologi digital seperti AI, melainkan berani mengambil tanggung jawab historis dalam menuntaskan agenda demokrasi kebangsaan.
Ia merefleksikan kegagalan generasi sebelumnya (Generasi X) yang mampu menginisiasi reformasi 1998, namun belum berhasil menuntaskan konsolidasi demokrasi secara paripurna.
"Kami generasi X berhasil menginisiasi reformasi, tetapi kami gagal menuntaskannya, tiba-tiba reformasinya berbelok. Itu utang generasi saya. Saya berharap penuntasan konsolidasi demokrasi ini bukan kami yang melakukannya, tapi kalian, generasi Z. Kampus UBK dengan memakai nama Bung Karno harus menjadi garda terdepan," kata Andi.
Kegiatan pelatihan ini turut dihadiri dosen UBK yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan sekaligus inisiator acara, Hasto Kristiyanto.
Hadir pula sejumlah pakar sebagai narasumber, di antaranya anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana, dosen dan peneliti Universitas Pertahanan RI Margaretha Hanita, serta perwakilan mahasiswa UBK sebagai penanggap, Kurnia Aryasatya dan Chrisostomos Inuhan.