NADIKABAR.COM — Belum lama, Indonesia kedatangan musisi kenamaan, Kanye West atau Ye. Rapper sekaligus produser musik asal Amerika tersebut sukses membawa penggemar yang hadir di konsernya itu masuk ke pengalaman euphoric dengan deretan lagu serta tata panggung yang memukau. Ye memanjakan telinga pendengarnya dengan 32 lagu tanpa jeda.
Kedatangan Ye ke Jakarta pada Sabtu (24 Oktober 2026) lalu menambah daftar panjang gigs musisi dunia di Indonesia. Di balik kemegahan konser dengan konsep dome stage ini, oleh beberapa pihak, disebut memberikan sejumlah dampak positif terhadap Indonesia.
Sebagai satu-satunya tempat seantero Asia Tenggara serta Oseania, Indonesia menjadi perhatian dunia tatkala Ye tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno Sabtu lalu. Sementara itu dari sisi ekonomi Ye turut menyumbang ekonomi hingga ratusan miliar. Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Mengutip NadiKabar, Pramono menyebut jika Konser Ye berhasil mendatangkan pendapatan mencapai sekitar Rp 450 miliar. Angka tersebut tidak hanya berasal dari penjualan tiket, tetapi juga aktivitas ekonomi lain yang muncul sebelum dan sesudah konser.
"Sedangkan untuk dampak konser dari Ye, dari penjualan tiket sendiri, jadi hanya dari penjualan tiket adalah Rp 328 miliar," ujarnya.
Pramono mengatakan dampak ekonomi secara keseluruhan dari konser tersebut diperkirakan mencapai Rp 450 miliar. Mantan Seskab tersebut mengatakan sejumlah penonton masih bertahan di Jakarta hingga sehari setelah konser berlangsung.
Perolehan tersebut berasal dari sejumlah sektor, mulai dari perhotelan dan transportasi, kuliner, hingga belanja pengunjung. Lalu sebesar apa peluang Indonesia mampu menyerap musisi-musisi kelas dunia lainnya? Simak ulasan seputar kedatangan Ye ke Indonesia dalam Kabar Sore!
Jelang petang nanti, Kabar Sore akan mengulas lebih dalam soal gaya hidup yang tengah digandrungi sebagian masyarakat di Indonesia. Di tengah himpitan ekonomi dunia saat ini, sejumlah kalangan tengah menerapkan downgrade lifestyle. Secara harfiah, gaya hidup ini merujuk pada menurunkan level keseharian yang berkaitan dengan gengsi dan mempertontonkan kemampuan sosial dengan sadar.
Sejumlah pelaku, di lingkungan tertentu, kini secara terang-terangan memilih menggunakan pakaian dan sepatu dengan merek tidak terkenal atas dasar harga. Tidak hanya itu, konsumsi yang bersifat sekunder dan tersier juga perlahan diganti dengan barang konsumsi yang lebih kuat secara fungsi dan manfaat.
Downgrade lifestyle ini pada akhirnya disebut sebagai bentuk adaptasi ekonomi akibat timpangnya pertumbuhan pendapatan dengan pengeluaran. Lalu sejauh mana gaya hidup ini bisa menjadi modal penambahan aset investasi? Simak diskusinya dalam Sunsetalk Kabar Sore!
Ikuti berita-berita terbaru dari NadiKabar dalam Kabar Sore. Kabar Sore nggak cuma hore-hore!