NADIKABAR.COM — Yayasan Jantung Indonesia (YJI) mengingatkan orang tua untuk mewaspadai Penyakit Jantung Rematik (PJR) pada anak dan remaja karena penyakit tersebut dapat berkembang tanpa gejala hingga menyebabkan gangguan pada katup jantung.
Ketua Umum YJI Annisa Pohan Yudhoyono dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu, mengatakan PJR masih menjadi masalah kesehatan pada anak dan remaja karena gejalanya kerap tidak terlihat sejak awal.
Dia menjelaskan PJR dapat berkembang sejak masa kanak-kanak dan baru diketahui ketika kondisi jantung sudah mengalami gangguan.
Penyakit jantung rematik dapat berawal dari infeksi bakteri grup A Streptococcus yang menyebabkan radang tenggorokan. Infeksi yang tidak ditangani dengan baik, termasuk pengobatan antibiotik yang tidak tuntas, dapat memicu reaksi autoimun yang menyerang organ tubuh, termasuk jantung.
"Anak yang terinfeksi radang tenggorokan yang tidak ditangani dengan benar, baik itu tidak diobati ataupun diobati dengan antibiotik, tapi, tidak tuntas antibiotiknya, itu akan mengalami kondisi autoimun sehingga itu bisa menyerang ke organnya, bisa ke ginjal dan juga utamanya bisa ke jantung," ujar Annisa.
Untuk meningkatkan deteksi dini, YJI menjalankan program skrining PJR dengan target 8.000 anak dan remaja. Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Jantung Sedunia 2026 dan akan berlangsung selama dua tahun.
Hingga saat ini telah terkumpul data dari 2.590 anak di sejumlah daerah, termasuk Malang, Jawa Timur dan Tulang Bawang, Lampung. Skrining selanjutnya akan dilakukan di Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Menurut dia, program tersebut juga diharapkan dapat membantu menyediakan data mengenai PJR pada anak di Indonesia.
YJI, kata Annisa melanjutkan, tidak hanya mengumpulkan data dari kegiatan skrining. Anak yang terdeteksi mengalami PJR maupun penyakit jantung bawaan juga akan dibantu untuk mendapatkan rujukan ke rumah sakit di daerah yang memiliki dokter spesialis jantung dan fasilitas pemeriksaan lanjutan.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan deteksi dini dapat diikuti dengan penanganan yang sesuai bagi anak yang teridentifikasi mengalami penyakit jantung.