Koperasi Desa Harus Jadi Rantai Distribusi, Bukan Cuma Tempat Barang
Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) menjelaskan koperasi desa harus benar-benar menjadi bagian dari rantai distribusi nasional, bukan sekadar tempat menampung barang. Ia menyebut, pengamanan pasar dalam negeri menjadi kunci agar produk petani dan UMKM tersalurkan dengan baik.
"Jadi pertama gini ya, kalau kita ngomongin perdagangan itu ngomongin pasar. Nah, salah satunya koperasi ini kan sebagai rantai distribusi, sebagai pasar. Tetapi, bagaimana kemudian pengamanan pasar dalam negeri itu produk-produk dari petani, atau dari masyarakat sekitar, atau dari UMKM itu tersalurkan dengan baik," ujarnya.
Koperasi Desa Disulap Jadi "Pintu" Ekspor
Budi menyebut, koperasi desa kini tidak hanya melayani kebutuhan konsumsi dalam negeri, tetapi juga mulai menembus pasar ekspor lewat jaringan perwakilan dagang yang tersebar di puluhan negara. Salah satu buktinya adalah pelepasan ekspor cokelat dari Jembrana, Bali, ke Prancis.
"Kita ada perwakilan, perwakilan dagang kita, ada atasan perdagangan, ada ITPC di 33 negara, cumanya 46. Jadi, kami berharap dan program kami, kami sering juga sampaikan ketika dalam rapat, bahwa kooperasi itu tidak hanya sekedar menyediakan produk untuk konsumsi dalam negeri, meskipun konsumsi dalam negeri besar, tetapi ketika surplus, kita maka bisa menyalurkan ke pasar export melalui perwakilan kita," katanya.
Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada empat koperasi yang berhasil menembus pasar ekspor, termasuk Koperasi Desa Merah Putih. Selain cokelat dari Jembrana, produk lain yang diekspor adalah kopi dari Banyuwangi dan Bandung ke China.
Kunci Harga Stabil, Petani dan Konsumen Sama-sama Untung