NADIKABAR.COM — "Sebanyak 30 individu di antaranya ditemukan di sekitar perkebunan kelapa sawit PT KALE," ujar CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sekaligus dokter hewan satwa liar Karmele Llano Sanchez, di Ketapang, Senin.
Dia mengatakan kebakaran telah mengancam keselamatan orang utan, termasuk satwa yang ditemukan dalam kondisi stres, kurus, dan mengalami gangguan kesehatan.
"Orang utan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini," kata Karmele.
Dalam perkembangan terbaru, tim gabungan menyelamatkan empat individu orang utan, yakni dua betina remaja bernama Lusi dan Riri serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.
Riri, Mama Rian, dan Rian dievakuasi pada 10 Oktober, sedangkan Lusi diselamatkan pada 16 Oktober dari kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) di perkebunan PT KALE, Desa Laman Satong.
"Lusi ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang hangus terbakar," ujar Karmele.
Setelah dibius dan dievakuasi, Lusi diketahui mengalami luka gores dan luka terbuka pada punggung, bibir, serta anus yang diduga akibat gigitan anjing. Ia juga mengalami dehidrasi dan malnutrisi sehingga membutuhkan penanganan medis.
Sementara itu, Riri, orang utan betina berusia sekitar 4–6 tahun, ditemukan berada di pohon kelapa sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan induknya di sekitar lokasi.
Tim gabungan juga menyelamatkan Mama Rian dan anaknya, Rian, dari kebun milik warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan PT KALE. Keduanya ditemukan di tengah kawasan yang telah terbakar, dengan hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi tubuh yang sangat kurus.
Dari hasil evakuasi di kawasan PT KALE dan sekitarnya, sebanyak 27 individu orang utan memerlukan perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi. Kondisi tersebut menambah kebutuhan penanganan terhadap satwa liar yang terdampak kebakaran dan kehilangan habitatnya.
Berdasarkan analisis citra satelit untuk periode 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan terbakar.
Tim gabungan masih membutuhkan upaya penyelamatan lanjutan karena sejumlah orang utan diduga masih bertahan di kawasan HCV yang terbakar. Kondisi lapangan juga menyulitkan evakuasi karena asap tebal masih menyelimuti sejumlah lokasi dan tanah masih mengeluarkan asap.
Sebuah publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan kawasan tersebut menjadi habitat sekitar 150 individu orang utan Kalimantan, dengan kepadatan mencapai 5,49 individu per kilometer persegi. Perkiraan itu menunjukkan besarnya potensi dampak kebakaran terhadap populasi orang utan di kawasan tersebut.
Kekhawatiran terhadap keselamatan satwa semakin meningkat setelah tim gabungan menemukan tengkorak yang diduga milik orang utan di kawasan HCV PT KALE pada 8 Oktober 2026. Temuan itu masih menjalani pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas spesies, penyebab kematian, dan perkiraan waktu kematian.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menegaskan, kawasan HCV yang terdampak karhutla perlu segera dipulihkan untuk menjaga keanekaragaman hayati dan mengembalikan fungsi ekologis habitat satwa liar.
"Upaya restorasi dinilai penting untuk mendukung kelangsungan hidup orang utan sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa dan manusia," ujarnya.