"Kepada para santri, jangan takut, jangan diam, dan jangan malu untuk melapor apabila mengalami atau melihat kekerasan maupun perundungan. Kenali hak kalian, saling menjaga, dan berani menjadi pelapor. Budaya diam harus kita putus bersama," pesannya.
Ia turut mengajak orang tua dan pengasuh pesantren untuk berperan sebagai pendamping sekaligus teladan bagi santri. Dengan demikian, pesantren diharapkan benar-benar menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Dalam kesempatan tersebut, Luthfi juga menyampaikan tiga pesan kepada santri untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pertama, santri diminta memperkuat ilmu dengan mendalami kitab kuning sekaligus menguasai sains, teknologi, dan literasi digital. Penguasaan berbagai bidang tersebut dinilai penting agar santri mampu menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kedua, santri diharapkan memperkuat akhlak dan persatuan dengan menjadi pembawa kedamaian, menjauhi paham yang memecah belah, serta menjaga toleransi di tengah keberagaman bangsa.
Ketiga, santri didorong membangun kemandirian dan kepedulian melalui pengembangan kemampuan berwirausaha, perhatian terhadap lingkungan dan kesehatan, serta keterlibatan dalam memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
"Saya berharap santri Jawa Tengah tumbuh menjadi generasi yang kuat ilmu agamanya, luas wawasannya, mulia akhlaknya, mandiri, berdaya saing, dan mampu menjawab tantangan zaman," ujarnya.
Luthfi menegaskan semangat perjuangan santri yang dahulu diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan harus terus dilanjutkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
"Selamat Hari Santri Nasional 2026. Mari kita teguhkan tekad: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas 2045," pungkas Luthfi.