NADIKABAR.COM — Merasakan stres saat berada di tempat kerja merupakan hal yang wajar, tetapi mengalami stres yang terus berulang bisa menjadi tanda mempunyai lingkungan kerja yang toxic.
Tanda-tanda lingkungan kerja yang toxic terkadang dianggap sebagai hal yang normal karena sudah menjadi sebuah budaya.
Mengabaikan hal-hal tersebut nyatanya akan memberikan dampak yang signifikan bagi mental health. Menurut Healthline, situasi itu bisa berdampak ke tingkat stres yang tinggi, insomnia, dan depresi.
Berikut adalah beberapa tanda lingkungan kerja yang toxic yang sering tidak disadari:
Lingkungan kerja yang toxic biasanya menormalisasi hilangnya batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pekerjaan menjadi sebuah prioritas di atas segalanya hingga karyawan mengalami burnout.
Situasi ini bisa terlihat dari atasan yang terus bekerja hingga larut malam dan berharap anggota timnya juga melakukan hal yang sama. Karyawan juga dituntut untuk selalu merespons tentang pekerjaan, termasuk di hari libur.
Psychology Today menyebutkan bahwa sikap rekan kerja bisa mencerminkan lingkungan kerja. Rekan kerja yang sering terlambat mengikuti rapat, tidak menghargai pekerjaannya, selalu bergosip, mengeluh, dan bersikap kasar merupakan tanda lingkungan toxic.
Lingkungan kerja yang sehat seharusnya dikelilingi oleh orang-orang yang suportif, ceria, dan profesional yang bisa membuat suasana di tempat kerja menjadi menyenangkan.
3. Atasan sering melakukan bullying
Atasan yang sering merendahkan kemampuan timnya, terus mengancam akan memecat karyawan, suka merendahkan orang lain adalah ciri lingkungan kerja yang buruk.
Perilaku lain bisa terlihat dari pemberian ultimatum seperti tidak memberikan cuti, tidak bisa menghargai waktu di luar jam kerja, dan tidak memberikan izin saat karyawan sedang sakit ataupun sedang berduka.
Lingkungan kerja yang toxic biasanya erat dengan budaya saling menyalahkan. Sebuah kesalahan tidak akan ditoleransi sehingga karyawan tidak bisa belajar dari kesalahan tersebut. Karyawan bahkan akan di kritik tajam hingga di permalukan.
Situasi yang seperti ini akan membuat karyawan melakukan cara apapun agar tidak disalahkan saat terjadi masalah. Mereka akan berusaha untuk terlihat lebih unggul dari rekan kerjanya dengan merahasiakan informasi penting atau menyalahkannya saat ada masalah.
Pergantian karyawan yang terus-menerus bisa menjadi indikasi adanya masalah dalam lingkungan kerja. Banyaknya karyawan yang keluar dari pekerjaan di waktu yang berdekatan bisa menandakan mereka tidak puas dengan tempat kerja.
Pergantian karyawan dalam jumlah yang tinggi juga bisa mengganggu kerja tim dan memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk merekrut orang baru.
Aturan yang diterapkan secara berbeda kepada setiap karyawan bisa menciptakan lingkungan kerja yang toxic.
Contohnya yaitu, seorang karyawan mendapat kenaikan gaji dan jabatan setelah melakukan suatu hal, tetapi di sisi lain karyawan lain yang melakukan hal yang sama justru mendapat teguran.
Perlakukan yang tidak adil dan aturan yang tidak jelas bisa menyebabkan persaingan tidak sehat antar karyawan.
7. Minim kesempatan untuk berkembang
Ciri lingkungan kerja toxic lainnya menurut Healthline adalah karyawan sulit untuk berkembang.
Karyawan yang baru memulai karier tidak dibimbing oleh atasannya untuk mengembangkan kemampuan. Arahan yang tidak jelas bisa menghilangkan motivasi mereka.
Dukungan untuk mengembangkan potensi penting agar karyawan mengetahui peluang yang cocok bagi mereka. Karyawan akan merasa kariernya stuck jika tidak ada kesempatan untuk berkembang.