"Mencapai pengurangan emisi dan perubahan sosial yang diperlukan dengan kecepatan dan skala yang dibutuhkan bergantung pada transformasi mendalam dalam pembangkitan energi, pola konsumsi, sistem pangan, prioritas ekonomi, dan struktur pemerintahan, dengan cara yang juga melindungi keanekaragaman hayati," kata Christopher Wolf, ilmuwan data di Terrestrial Ecosystems Research Associates yang juga salah satu penulis studi.
Para peneliti mengungkap konsentrasi karbon dioksida di atmosfer pada bulan Mei tahun ini telah melebihi 428 bagian per juta (ppm), meningkat 50 persen lebih tinggi daripada tingkat sebelum Revolusi Industri, serta merupakan rekor terparah dalam 2 juta tahun terakhir.
Peningkatan kadar karbon dioksida ini sebagian besar disebabkan oleh lonjakan emisi yang dihasilkan manusia dalam beberapa abad terakhir.
Sementara itu, laju pemanasan global juga semakin cepat, meningkat dari yang sebelumnya hanya 0,19 derajat Celsius per dekade pada era 1970 hingga 2010, menjadi 0,36 derajat Celsius per dekade saat ini.
Kondisi tersebut kemudian berimbas pada penurunan ketebalan gletser dan massa es Greenland yang telah mencapai titik terparah sepanjang sejarah. Lelehan es ini kemudian juga memengaruhi temperatur dan meningkatkan permukaan laut di seluruh dunia.
Selain itu, perubahan iklim juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, yang mengurangi tutupan pohon global sebesar 10,8 juta hektar pada tahun 2025. Kebakaran juga melepaskan emisi gas rumah kaca dan menjadi lingkaran setan krisis iklim yang berbahaya.
Laporan tersebut juga mengungkap adanya kenaikan konsumsi bahan bakar fosil sebesar 0,9 persen pada 2025, yang jika ditotalkan dengan konsumsi minyak, batu bara, dan gas alam juga mencapai rekor terparah.
Berikut rincian 16 indikator krisis iklim beserta status terbarunya: