Para peneliti menyebut krisis iklim yang terjadi saat ini telah meningkatkan risiko yang tidak dapat dipulihkan, termasuk cuaca ekstrem yang semakin intensif di banyak wilayah yang memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Beberapa tahun terakhir (krisis iklim) telah membawa gelombang panas, banjir, kekeringan, badai, dan kebakaran hutan yang semakin merusak yang menyebabkan meningkatnya kehilangan nyawa, infrastruktur, ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan stabilitas ekonomi," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Sebagai contoh, sejak beberapa bulan lalu hingga saat ini hampir seluruh pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Papua mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum kunjung padam sepenuhnya.

"Banjir parah juga melanda berbagai wilayah, termasuk Indonesia pada November 2025, di mana badai tropis dan hujan monsun menyebabkan 708 kematian dan kerusakan infrastruktur yang meluas," tulis laporan tersebut.

Para peneliti menilai perlu adanya kebijakan terkait penanganan masalah iklim. Mereka juga mengatakan masih ada peluang besar untuk mengurangi emisi, memperkuat ketahanan, dan membantu menstabilkan sistem Bumi.

Mereka menjelaskan bahwa respons yang efektif membutuhkan kemajuan terkoordinasi dalam adaptasi, mitigasi, perlindungan ekosistem, inovasi teknologi, dan transformasi masyarakat.

"Beberapa respons, khususnya pendekatan berbasis alam seperti hutan kota, lahan basah, dan hutan bakau, dapat secara bersamaan memperkuat ketahanan iklim dan mendukung tujuan mitigasi," jelasnya.

Meski upaya tersebut telah dilakukan, para peneliti menilai efektivitasnya rendah dan mungkin menurun seiring meningkatnya pemanasan global. Oleh karena itu, mereka mendesak pentingnya upaya pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat.