NADIKABAR.COM — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan 91% impor Indonesia merupakan bahan baku penolong dan barang modal. Sementara, 8,7% barang konsumsi.

Budi mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) struktur ekspor Indonesia saat ini didominasi oleh produk industri pengolahan yang porsinya mencapai 82%. Sisanya ditopang oleh sektor pertambangan, migas, serta pertanian. Melihat struktur ekspor-impor tersebut, Budi menilai industri dalam negeri masih terus berkembang.

"Nah, yang perlu dipikirkan adalah ketika 91% impor barang modal, bahan baku itu semuanya impor 91%," ujar Budi dalam acara Rapimnas Kadin Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Kendati begitu, Budi mengingatkan agar rantai pasok bahan baku tidak bergantung pada satu atau dua negara penyuplai saja. Menurutnya, ketika importir Indonesia hanya bergantung pada sedikit supplier, dapat menjadi bumerang bagi Indonesia.

"Kita harus memikirkan suplainya. Ya, jangan sampai kita tergantung pada satu dua supplier karena ketika kita tergantung pada satu dua supplier berarti daya tawar dia semakin kuat. Itu tentu berbahaya buat kita," beber Budi.

Sebagai langkah antisipasinya, pemerintah telah menggencarkan berbagai perjanjian dagang internasional. Ia menilai tujuan perjanjian dagang bukan sekadar menghitung surplus atau defisit neraca dagang semata.

"Karena sebenarnya perjanjian dagang itu buat kami tidak semata-mata ngomongin mengenai surplus atau defisit. Tetapi bagaimana kita berjalan, industri kita berkembang, dan ekspor kita meningkat di masing-masing negara yang kita lakukan perjanjian," imbuh ia.

Saat ini, tercatat sudah ada 25 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan Indonesia dengan negara lain. Sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam proses ratifikasi.

Pemerintah juga tengah mengebut penyelesaian perjanjian dagang dengan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA). Ia berharap proses ratifikasi dapat dilakukan segera, mengingat Generalised Scheme of Preferences (GSP) Uni Eropa akan segera berakhir.

"Nah kemudian nanti Indonesia-EU CEPA mudah-mudahan November sudah bisa ditandatangani. Kita kejar mudah-mudahan Januari sudah implementasi karena Januari kan GSP sudah tidak berlaku," tambahnya.