NADIKABAR.COM — Celah keamanan PHP2Shell yang belakangan membuat kehebohan dinilai hanyalah awal dari gelombang ancaman siber yang terungkap (atau tereksploitasi) berkat kecerdasan buatan (AI).

Ini adalah pandangan dari CEO Cloudflare Matthew Prince, yang menyebut Cloudflare telah mengidentifikasi sejumlah kerentanan parah baru pada berbagai perangkat lunak kritis lainnya yang menopang lalu lintas internet global.

Dalam hal ini, AI bisa menjadi pedang bermata dua, bisa berbahaya jika dipakai oleh hacker, atau juga bisa mengamankan celah yang sebelumnya belum pernah ditemukan jika dipakai oleh peneliti keamanan siber.

Penyebab utama maraknya temuan celah keamanan ini adalah pesatnya pemanfaatan model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti buatan OpenAI dan Anthropic, baik oleh peneliti keamanan maupun hacker.

Dahulu, perburuan celah zero-day bergantung pada seberapa banyak pakar siber yang memiliki waktu dan keahlian untuk membaca baris kode rumit. Namun keberadaan agen AI kini mengubah lanskap tersebut secara drastis:

Dampak dari perburuan celah berbasis AI ini terkonfirmasi lewat data mengejutkan dari lembaga nirlaba Electronic Frontier Foundation (EFF), demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Selasa (27/10/2026).

EFF mencatat bahwa sebanyak 3 persen dari seluruh kerentanan perangkat lunak yang pernah tercatat sepanjang sejarah manusia berhasil ditemukan hanya pada bulan Oktober 2026 saja. Selain itu, hampir seperempat (25%) dari seluruh isu keamanan siber yang terdaftar di dunia terungkap sepanjang tahun ini.

Dampak dari kerentanan ini sangat luas mengingat bahasa PHP digunakan oleh sekitar 70% situs web di dunia. Insiden celah PHP pekan lalu sempat memaksa berbagai situs pemerintah, platform toko game GOG, Wikipedia, Microsoft.com, hingga jutaan situs berbasis WordPress melakukan pembaruan darurat.

Baik Cloudflare maupun EFF memprediksi situasi keamanan siber akan memburuk dalam jangka pendek. Serangan siber diperkirakan bakal makin sering terjadi, risiko kebocoran data meningkat, dan beberapa layanan internet berpotensi mengalami downtime.

Meski demikian, Prince menilai tren ini akan berdampak positif dalam jangka panjang. Setiap kali model AI menemukan celah dan pengembang merilis patch perbaikan, perangkat lunak internet akan menjadi jauh lebih tangguh dan aman dari sebelumnya.

Guna mengantisipasi ancaman ini, pengguna internet dan pengelola situs diimbau untuk melakukan langkah mitigasi dasar: