NADIKABAR.COM — Di tengah gempuran media penyimpanan modern seperti SSD, pita magnetik (magnetic tape) bisa bangkit kembali.
Lonjakan kebutuhan storage berukuran raksasa akibat ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) mendorong raksasa teknologi asal Jepang, Fujifilm, menginvestasikan dana hingga 10 miliar yen (sekitar Rp 1 triliun/USD 64 juta) guna mendongkrak kapasitas produksi pita magnetiknya.
Investasi masif ini dialokasikan untuk memperluas fasilitas Pabrik Kanagawa di Kota Odawara, Jepang, guna merespons lonjakan permintaan dari pengelola data center dan penyedia layanan cloud.
Fujifilm mengungkapkan bahwa program ekspansi ini akan berjalan mulai tahun fiskal 2026 hingga 2028. Lewat suntikan dana tersebut, Fujifilm menargetkan kenaikan volume produksi pita magnetik hingga lima kali lipat dari kapasitas saat ini.
Fujifilm menyebut Generative AI sebagai pendorong utama di balik tingginya permintaan pita magnetik:
Pabrik Kanagawa milik Fujifilm akan difokuskan untuk memproduksi kaset pita berbasis standar LTO-10 (Linear Tape-Open). Format LTO sendiri dikembangkan sejak 1990-an sebagai standar terbuka yang dikelola oleh konsorsium IT raksasa seperti HPE, IBM, dan Quantum Corporation.
Generasi LTO-10 menawarkan kemampuan penyimpanan data yang sangat besar:
Pengembangan teknologi pita magnetik ini dipastikan masih akan terus berlanjut. Konsorsium LTO telah menyiapkan roadmap generasi masa depan untuk mengubah lanskap penyimpanan data global:
Sejak meluncurkan produk LTO Ultrium 1 pada tahun 2000 lalu, Fujifilm terus membuktikan bahwa pita magnetik--yang telah diriset sejak 1950-an--tetap menjadi media penyimpanan paling efisien dan andal di era AI saat ini, demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Senin (2/11/2026).