"Jadi, pertanyaan yang menentukan bukan sekadar 'Apa yang bisa dilakukan AI?' melainkan 'Untuk tujuan apa AI seharusnya digunakan?'" kata Paus.
Paus Leo XIV juga menolak pandangan yang menempatkan mesin atau AI setara dengan manusia. Menurutnya, mesin merupakan alat, bukan pribadi yang memiliki kesadaran dan pengalaman hidup.
Ia mengutip pernyataan dalam ensiklik yang diterbitkannya pada Mei 2026, yang menjadi deklarasi ideologis besar pertamanya mengenai sikap Gereja Katolik terhadap AI.
"Kecerdasan artifisial yang disebut demikian tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan kegembiraan atau rasa sakit, tidak berkembang melalui hubungan, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, pekerjaan, persahabatan, atau tanggung jawab," demikian pernyataan yang dikutip Paus.
Ia memperingatkan terkait anggapan AI memiliki pengalaman sadar berisiko mengaburkan tanggung jawab manusia, terutama ketika teknologi tersebut menimbulkan kerugian.
"Memperlakukan AI seolah-olah memiliki pengalaman sadar berisiko mengaburkan tanggung jawab manusia dan membiarkan mereka yang mengalami kerugian harus berhadapan dengan entitas tanpa wajah," tuturnya.