NADIKABAR.COM — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia memasuki tahun kedua kokoh tanpa impor beras meski dunia menghadapi krisis pangan dan energi global serta tekanan geopolitik.

"Alhamdulillah di saat pangan dunia tidak menggembirakan, tidak baik-baik saja, Indonesia masuk tahun kedua tidak impor beras," kata Amran dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu.

Dia menegaskan pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui koordinasi lintas sektor meski aktivitas berlangsung pada hari libur, karena menjaga kecukupan pangan bagi 286 juta penduduk menjadi prioritas utama.

"Hari Minggu kita rapat, subuh pula. Jadi tidak ada tanggal merah bagi Kementerian Pertanian menjaga pangan kita," ujarnya.

Amran mengatakan dirinya baru kembali dari Beijing setelah bertemu Menteri Pertanian China untuk membahas peluang kerja sama memperkuat sektor pangan menghadapi ketidakpastian global yang terus berkembang.

"Kami baru pulang dari Beijing, ketemu Menteri Pertanian, diskusi panjang lebar. Kita akan kerja sama ke depan memperkuat pangan, karena dunia lagi krisis pangan, krisis energi," tuturnya.

Menurut dia, kondisi pangan dunia masih menghadapi tekanan akibat krisis pangan, energi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengganggu distribusi logistik dan perdagangan komoditas berbagai negara.

Ia mengungkapkan China saat ini masih mengimpor sekitar 6 juta ton pangan, sementara puluhan negara memilih menahan stok domestik sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasokan global.

Amran mengungkapkan, sedikitnya 33 negara menerapkan kebijakan pengamanan stok pangan nasional sehingga distribusi internasional semakin ketat dan membutuhkan langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan pangan dalam negeri.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus mengonsolidasikan berbagai langkah penguatan produksi, pengelolaan cadangan, serta pengamanan distribusi agar pasokan pangan nasional tetap tersedia secara berkelanjutan bagi masyarakat.

"Beberapa negara sesuai berita yang Anda tulis, itu 33 negara yang menahan pangannya mempersiapkan stok dengan kondisi geopolitik yang memanas sehingga distribusi sulit, kemudian angkutan, dan seterusnya. Nah ini kita jaga, kita konsolidasi, kita jaga," tegasnya.

Amran menegaskan Indonesia berhasil memasuki tahun kedua tanpa impor beras pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sementara stok beras nasional tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Sekali lagi, tahun kedua tidak impor beras di pemerintahan Bapak Presiden Prabowo. Kita syukuri, beras kita, stok kita aman," imbuh Amran.

Adapun Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi ketidakpastian global. Hingga akhir Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.

Selain itu, terdapat sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen serta sekitar 10 juta ton stok yang berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

Ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton, sementara kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.

Adapun Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas tanpa impor meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.