"Ketika anak bercerita sesuatu yang menurut kita mungkin, 'Waduh, begini ya', harus stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk, tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," ujarnya.
Menurutnya, respons orang tua pada momen tersebut dapat menentukan apakah anak akan kembali menjadikan orang tua sebagai tempat bercerita. Jika setiap cerita langsung diikuti penghakiman atau kemarahan, anak bisa merasa lebih aman mencari tempat lain untuk bercerita, termasuk kepada AI.
Hal kedua adalah memahami apa yang sedang terjadi dalam diri anak ketika memasuki masa pra-remaja dan remaja. Pritta mengatakan orang tua pun perlu aktif belajar mengenai perubahan yang dialami anak, baik dari sisi emosi maupun fisik.
"Orang tua itu perlu tahu anak saya nih, misalnya sudah masuk usia pra-remaja atau remaja, apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Nah, ini perlu belajar. Bisa dari mana saja," katanya.
Sebagai contoh, ketika anak memasuki usia sekitar 13 tahun atau mulai masuk SMP, mereka berada dalam fase pubertas. Pada masa tersebut, menurut Pritta, dapat muncul berbagai gejolak yang memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Anak bisa menjadi lebih sensitif terhadap penilaian sosial, merasa dikucilkan, merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya, hingga mulai mengalami ketertarikan romantis.