NADIKABAR.COM — Social jetlag adalah kondisi saat seseorang memiliki dua pola tidur yang berseberangan. Kondisi tersebut umumnya muncul karena adanya perbedaan yang mencolok di hari kerja dan hari libur. Biasanya, kekurangan tidur pada hari kerja diganti dengan durasi tidur yang lebih lama di hari libur.

Jadwal tidur yang berubah secara drastis bisa mengacaukan ritme sirkadian. Ritme tersebut berfungsi untuk mengatur berbagai siklus tubuh selama 24 jam, termasuk waktu tidur dan bangun.

Social jetlag memiliki beberapa kesamaan dengan jet lag setelah bepergian ke negara dengan zona waktu yang berbeda. Hal yang membedakannya adalah penyebabnya.

Jet lag terjadi karena tubuh perlu menyesuaikan diri dengan perubahan zona waktu. Sedangkan, social jetlag terjadi akibat perubahan rutinitas tidur tanpa berpindah lokasi.

Waktu tidur yang berubah-ubah dapat mengakibatkan tubuh seolah harus menyesuaikan diri dengan jadwal baru setiap beberapa hari. Hal ini menyebabkan waktu tidur dan bangun menjadi tidak teratur yang dapat mengganggu kualitas tidur.

Dampak social jetlag terhadap kesehatan

Social jetlag bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, obesitas, dan depresi. Masalah ini bahkan dijadikan epidemi kesehatan masyarakat oleh WHO.

Tak hanya itu, kurang tidur bahkan bisa menurunkan kewaspadaan dan mengganggu koordinasi mata dan tangan. Kemampuan mengingat dan berpikir logis juga ikut menurun. Kondisi ini juga bisa berpengaruh pada kestabilan emosi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Perubahan jadwal tidur akibat social jetlag bisa membuat waktu tidur menjadi tidak teratur. Kesulitan tidur di malam hari mengakibatkan seseorang lebih sulit untuk bangun sesuai jadwal. Kondisi ini bisa menyebabkan sulit tidur dan membuat mengantuk di siang hari.

The Guardian juga menjelaskan bahwa pola tidur yang tidak teratur juga dikaitkan dengan performa akademik yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga waktu tidur tetap konsisten sama pentingnya dengan memenuhi durasi tidur yang cukup.

Kurangnya tidur juga bisa membuat suasana hati lebih mudah berubah. Seseorang bisa lebih mudah marah atau merasa tertekan. Gangguan tidur yang berlangsung lama bahkan bisa menyebabkan depresi.