Menurut NASA melalui artikel Aerosols: Tiny Particles, Big Impact, partikel aerosol dalam asap kebakaran dapat berfungsi sebagai cloud condensation nuclei atau inti kondensasi awan. Partikel kecil ini menjadi tempat uap air mengembun dan membentuk tetesan air di dalam awan.

Ketika jumlah aerosol meningkat, tetesan awan yang terbentuk bisa menjadi lebih banyak tetapi berukuran lebih kecil. Kondisi tersebut dapat mengubah proses pembentukan hujan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan bahwa aerosol dapat menghambat hujan ringan pada jenis awan tertentu. Namun, pada awan konvektif yang berkembang tinggi, aerosol juga berpotensi meningkatkan intensitas hujan melalui perubahan proses pembentukan tetesan air dan es.

Pengaruh tersebut bahkan dapat terjadi pada pita hujan di bagian luar siklon tropis. Meski demikian, dampaknya sangat bergantung pada konsentrasi aerosol, kelembapan, serta kondisi atmosfer.

Karena itu, meskipun polusi karhutla Indonesia dilaporkan masuk ke sirkulasi Topan Champi, belum dapat dipastikan apakah aerosol tersebut benar-benar meningkatkan intensitas hujan tanpa analisis atmosfer lebih lanjut.

Fenomena ini terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Asap yang dihasilkan tidak hanya berdampak pada kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat menyebar melintasi batas negara.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) dalam pemantauan 21 Oktober 2026 melaporkan kabut asap dengan intensitas sedang hingga pekat di sejumlah wilayah, termasuk Papua, Maluku, dan Sulawesi.