Kualitas udara di beberapa stasiun pemantauan di Kalimantan dan Sumatra bahkan tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi kabut asap juga terpantau memengaruhi Singapura dan Semenanjung Malaysia.

ASMC turut mencatat pengaruh Topan Champi terhadap pola angin di Filipina. Angin di wilayah tersebut diperkirakan bertiup kencang dari barat daya hingga barat laut akibat pengaruh badai.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana sistem cuaca berskala besar dapat memengaruhi pergerakan massa udara di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, pergerakan karbon monoksida yang terlihat dalam visual pemantauan atmosfer tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh aerosol asap mengikuti jalur yang sama.

NASA menjelaskan interaksi aerosol dengan awan sangat kompleks. Dalam kondisi tertentu, partikel asap dapat mendukung pembentukan awan, sementara pada kondisi lain justru menghambat pembentukan awan dan hujan.

Dengan demikian, dugaan bahwa polusi karhutla Indonesia dapat memperkuat hujan Topan Champi masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada polusi udara. Partikel yang terbawa angin berpotensi berinteraksi dengan sistem cuaca jauh dari sumber kebakaran, termasuk memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan.