BPD tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi, tetapi juga terlibat dalam ekosistem keuangan daerah, perluasan inklusi keuangan, serta pembiayaan pembangunan regional.
Di sisi lain, Agus mengatakan penguatan BPD juga perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing. Asbanda dan BPD mendorong kolaborasi antar-BPD dalam pengelolaan likuiditas, pasar uang, repo, treasury hingga sindikasi pembiayaan.
BPD juga perlu mempercepat transformasi digital, memperkuat keamanan siber, tata kelola dan manajemen risiko, serta meningkatkan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) dari masyarakat dan dunia usaha.
"Kami tidak ingin BPD dilindungi dari kompetisi. Kami ingin BPD diperkuat agar mampu berkompetisi," tegas Agus.
Dengan aset yang mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun, Asbanda mendorong BPD untuk memperkuat perannya sebagai bank pembangunan daerah melalui peningkatan kesehatan, digitalisasi dan daya saing.
"Sistem keuangan nasional yang kuat tidak mungkin hanya dibangun dari pusat. Ia membutuhkan akar yang kuat di seluruh daerah, dan BPD adalah salah satu akar tersebut. Ketika BPD semakin kuat, yang memperoleh manfaat bukan hanya BPD, tetapi daerah dan pada akhirnya Indonesia," pungkas Agus.