"[Dan] tidak peduli seberapa hebat atau seberapa besar kontribusi Anda pada perekonomian Australia dan dalam mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil, jika Anda tidak lajang, Anda tidak diterima di sini."

Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan pemerintah "tidak mentoleransi segala bentuk eksploitasi pekerja, tanpa memandang status visa mereka, mencakup pembayaran upah dan hak-hak pekerja yang tidak sesuai ketentuan."

"Hukum ketenagakerjaan Australia dan standar minimum ketenagakerjaan berlaku bagi seluruh pekerja, terlepas dari status imigrasi mereka."

Pemerintah Australia juga mengakui kontribusi yang signifikan dari para migran, termasuk dalam mengisi kebutuhan keterampilan di pasar tenaga kerja Australia serta memperkaya kehidupan masyarakat dan komunitas Australia.

"Pemerintah tetap berkomitmen kuat untuk menindak penyalahgunaan sistem migrasi dan sektor pendidikan, sekaligus melindungi anggota masyarakat yang rentan dari praktik eksploitasi."

Meskipun sistem industrial di Australia memberikan hak dan perlindungan yang sama kepada pemegang visa sementara seperti halnya warga negara Australia dan penduduk tetap, Departemen Dalam Negeri mengakui pekerja migran sering kali lebih rentan mengalami eksploitasi di tempat kerja.

Stephen Ferguson, CEO Australian Hotels Association (AHA) mengatakan keputusan untuk menghentikan keluarga mahasiswa internasional ke Australia juga akan memengaruhi sektor perhotelan dan "menimbulkan kerugian ekonomi".

"Salah satu peran yang kebanyakan dijalani mahasiswa internasional adalah di bidang housekeeping," katanya.

"Kalau ke kafe, pub, atau restoran, atau bisnis perhotelan lain, kita bisa menemukan WHV atau mahasiswa internasional yang bekerja karena kita sama sekali tidak punya tenaga kerja ini di Australia."

"Kami tidak setuju dengan keputusan pemerintah, ini keputusan dengan pikiran pendek, dan menimbulkan kerugian ekonomi," katanya.

Menurutnya, puluhan ribu mahasiswa internasional mengisi kekosongan di sektor perhotelan, akomodasi, dan pariwisata.

"Jika kita kehilangan ribuan mahasiswa internasional yang datang dengan pasangannya, universitas akan mengalami kerugian besar."

Stephen mengatakan migran, termasuk mahasiswa internasional, tidak mengambil pekerjaan warga Australia seperti diasumsikan banyak orang.

"Sama sekali tidak benar pernyataan kalau migran merebut lapangan kerja warga Australia," katanya.

"Tidak ada orang Australia yang mau pindah ke [pedalaman] … untuk memetik buah dan juga bekerja di hotel, kedai, kafe, dan pub waktu musim pariwisata dan pemetikan buah sedang berlangsung."

Mustolih dan Nini berharap pemerintah Australia bisa lebih bijak dalam mengubah aturan yang terkait dengan mahasiswa internasional.

"Ke depannya perlu dipikirkan untuk mereka yang tidak boleh bawa keluarga, apalagi yang sudah berencana membawa keluarga," kata Mustolih

"Karena selain belajarnya mungkin akan lebih tenang ... meskipun biaya hidupnya nambah, tapi dengan membawa keluarga kan ada support system-nya di sini," tambahnya.

"Soal uncertainty-nya juga sih, misalnya biaya visa bisa tiba-tiba naik ... kita sudah menabung dua ribu dolar untuk temporary visa, tiba-tiba naik dua kali lipat, padahal enggak semua mahasiswa di sini belajar dengan beasiswa, banyak juga yang bayar sendiri," tambah Nini.