Ia menyinggung tantangan yang muncul ketika Indonesia membatasi ekspor bahan mentah, termasuk gugatan melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Bahlil menegaskan agenda hilirisasi tidak hanya mencakup nikel, tetapi juga 28 komoditas dari berbagai sektor.
Ia menjelaskan pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk pengembangan hilirisasi tersebut mencapai sekitar 618 miliar dolar AS hingga 2040.
Komoditas yang menjadi sasaran pengembangan meliputi mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, pertanian, perikanan, serta kelautan.
Pemerintah berharap pengolahan sumber daya alam di dalam negeri dapat memperkuat industri nasional, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Bahlil menyebut hilirisasi sebagai salah satu pendorong untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen hingga 8 persen.