NADIKABAR.COM — Rencana Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga didukung pengusaha. Rencana itu dilakukan untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma'ruf Maulana menilai wacana tersebut tepat di tengah masih terjadinya persoalan pasokan gas yang dihadapi sejumlah sektor industri nasional.

"HKI mendukung sikap Pak Bahlil. Kalau kebutuhan industri di dalam negeri belum terpenuhi, maka gas Indonesia harus diprioritaskan untuk industri Indonesia. Termasuk gas yang selama ini diekspor ke Singapura, ketika kontraknya berakhir dan kebutuhan domestik masih tinggi, sebaiknya dikembalikan untuk memperkuat industri nasional," kata Ma'ruf dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Menurut Ma'ruf, posisi tersebut tidak perlu dibaca sebagai sikap anti-ekspor ataupun ditujukan terhadap negara tertentu. Singapura tetap merupakan salah satu mitra ekonomi strategis Indonesia. Namun, pengelolaan sumber daya energi harus menempatkan kepentingan nasional dan keberlanjutan industrialisasi sebagai pertimbangan utama.

Kontrak impor gas Singapura dari Indonesia yang akan berakhir pada akhir 2028. Gas Indonesia menjadi salah satu sumber utama pasokan Singapura dan terutama disalurkan melalui jaringan pipa.